Aset Global Makin Dilirik, Allianz Kasih 5 Tips Diversifikasi Portofolio
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Perhatian investor terhadap aset global khususnya yang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) mulai meningkat di tengah dinamika pasar global dan pergerakan nilai tukar yang smakin mempengaruhi strategi investasi.
Salah satu indikasinya terlihat dari dana kelolaan reksa dana lokal dalam dolar AS yang meningkat 13% secara year to date (ytd) menjadi US$ 388 juta hingga pertengahan tahun.
Dalam skala yang lebih luas, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi aset finansial luar negeri (AFLN) Indonesia naik 1,9% secara kuartalan menjadi US$ 571,5 miliar pada kuartal II 2026. Kenaikan itu ditopang oleh naiknya aset investasi lainnya, investasi langsung, serta investasi portofolio.
Chief Investment Officer ALlianz Life Indonesia Ni Made Daryanti mengungkapkan, perkembangan tersebut membuat strategi diversifikasi global semakin relevan bagi investor.
Namun, lanjut dia, diversifikasi ke aset global sebaiknya tidak hanya didasarkan pada pergerekan nilai tukar atau spekulasi terhadap arah rupiah.
“Strategi ini perlu dipertimbangkan berdasarkan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing investor, agar keputusan investasi tidak hanya mengikuti dinamika pasar dan mengejar peluang,” ujar Ni Made, dalam keterangan pers, dikutip Selasa (29/9/2026).
Baca Juga
Lewat Kegiatan Ini, Allianz Indonesia Jaga Kedekatan dengan Nasabah
Menurutnya, kebutuhan finansial yang memiliki dimensi lintas negara juga dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan komposisi portofolio. Misalnya, kebutuhan biaya pendidikan di luar negeri, perjalanan internasional, kepemilikan aset global, maupun tujuan investasi jangka panjang.
“Dalam kondisi tersebut, eksposur terhadap mata uang atau pasar yang berbeda dapat menjadi salah satu pertimbangan yang relevan, dengan tetap memperhatikan profil risiko dan kebutuhan masing-masing investor,” kata Ni Made.
5 Hal yang Perlu Diperhatikan
Ni Made menekankan, diversifikasi global bukan berarti investor harus meninggalkan aset domestik dan memindahkan seluruh dananya ke luar negeri. Strategi itu justru diarahkan untuk melengkapi portofolio dengan eksposur yang lebih beragam.
Setidaknya, terdapat lima aspek yang perlu diperhatikan investor. Pertama, diversifikasi tidak hanya berdasarkan pada jenis aset. Investor dapat melakukan diversifikasi berdasarkan kelas aset, sektor, negara atau wilayah, hingga mata uang. Memiliki banyak produk investasi belum tentu berarti portofolio sudah terdiversifikasi jika sebagian besar aset tetap terkonsentrasi pada sektor, pasar, atau mata uang yang sama.
Kedua, pahami pengaruh mata uang terhadap investasi. Investor global memiliki faktor tambahan yang perlu diperhitungkan yaitu pergerakan nilai tukar. Dengan begitu, hasil investasi dalam mata uang asing tak hanya ditentukan oleh kinerja aset, tapi juga perubahan kurs terhadap rupiah.
Baca Juga
Begini Strategi Allianz Life Hadapi Era Baru Industri Asuransi
Artinya, penguatan atau pelemahan nilai tukar dapat mempengaruhi nilai akhir investasi ketika dikonversikan kembali ke rupiah. Karena itu, eksposur mata uang perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi, bukan sekadar instrumen untuk menebak arah kurs.
Ketiga, diversifikasi global bersifat melengkapi investasi domestik. Investor tak harus mengganti seluruh aset domestik dengan aset asing. Eksposur ke pasar global dapat digunakan untuk memperluas sumber pertumbuhan dan mengurangi ketergantungan portofolio terhadap kinerja satu pasar, sektor, atau mata uang.
Dengan komposisi yang lebih beragam, investor punya akses terhadap peluang investasi dari berbagai wilayah sekaligus dapat mengelola konsentrasi risiko dalam portofolio.
Keempat, memahami peluang sekaligus risiko. Investasi di pasar global membuka akses terhadap lebih banyak kelas aset dan wilayah investasi. Tapi, strategi tersebut juga membawa sejumlah risiko, mulai dari volatilitas pasar global, perubahan nilai tukar, biaya transaksi dan konversi mata uang, hingga risiko yang melekat pada masing-masing aset.
Diversifikasi dapat membantu mengurangi konsentrasi risiko, tapi tak menjamin keuntungan ataupun menghilangkan risiko investasi.
Kelima, menyesuaikan diversifikasi dengan kebutuhan finansial. Eksposur terhadap mata uang asing dapat menjadi lebih relevan bagi investor yang punya kebutuhan dana dalam valuta asing (valas) di masa depan. Salah satu contohnya adalah kebutuhan pendidikan anak di luar negeri.
Pada dasarnya, kata Ni Made, diversifikasi global bukan soal memilih antara investasi domestik atau luar negeri. Namun fokusnya adalah membangun portofolio yang lebih tangguh melalui kombinasi aset yang sesuai dengan tujuan investasi, jangka waktu, dan portofolio masing-masing investor.
“Ketika seseorang memiliki tujuan keuangan yang melibatkan valas atau eksposur terhadap pasar global, diversifikasi dapat menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan secara terukur. Jadi, bukan sekadar mengikuti pergerakan kurs, melainkan memahami peran setiap aset dalam keseluruhan portofolio,” ucapnya.
