Rasio NPL Amar Bank terjaga di 1%, Ini Rahasianya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) berhasil menjaga rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) net di level terjaga, yakni sekitar 1%. Capaian ini tak lepas dari sejumlah strategi mitigasi risiko yang diterapkan perseroan, mulai dari penerapan credit scoring yang ketat hingga optimalisasi struktur biaya operasional.
Head of Finance Amar Bank Yosua Sullivan mengungkapkan, langkah pertama dalam menjaga NPL adalah mitigasi risiko sejak awal penyaluran kredit. Hal ini dilakukan melalui penerapan credit scoring yang terus diperbarui sesuai kondisi terkini.
“Yang pertama sudah pasti adalah bagaimana kita memitigasi risiko dalam penyaluran kredit, bagaimana kita membuat credit scoring menjaga credit scoring ini tetap proven, tetap up to date,” ujarnya, menjawab pertanyaan Investortrust, dalam acara Amar Bank Digital Banking Outlook 2026, di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Selain itu, lanjut Yosua, Amar Bank juga memastikan pencadangan atau provisi selalu dalam jumlah yang cukup. Hal ini menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan finansial perusahaan.
“Yang lebih penting juga dalam mengelola NPL, penting juga untuk menjaga kenyamanan finansial, juga kita memastikan bahwa kita membuat pencadangan itu selalu cukup. Itu juga makanya NPL kita selalu bisa rendah, saat ini di kisaran 1%,” katanya.
Baca Juga
Lewat Platform Baru Ini, Amar Bank Dorong Kemudahan Pelaku Usaha
“Pencadangan ini kita buat, kita pastikan selalu tidak kekurangan dan selalu pasti cukup, dan ini juga memang kita pasti setiap tahun kita di audit juga, termasuk oleh pengawas OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk memastikan agar kita tidak membuat pencadangan yang tidak cukup,” sambung Yosua.
Amar Bank juga mengandalkan efisiensi operasional untuk mendukung kemampuan pencadangan yang kuat. Digitalisasi proses underwriting disebut menjadi salah satu kunci efisiensi.
”Dalam mendukung melakukan pencadangan yang cukup tinggi, kita harus memiliki fondasi profitabilitas yang kuat. Untuk underwriting itu sudah fully digital atau fully automated, itu sangat membantu untuk menekan operational cost sehingga operational cost menjadi efisien,” ucap Yosua.
Sehingga, kata dia, membuka ruang untuk memberikan kemampuan juga untuk menyerap pencadangan untuk kredit yang mengoptimalkan seluruh komponen profitabilitas.
Yosua menyatakan, kemampuan menyerap pencadangan sangat penting untuk menekan NPL. Tanpa profitabilitas yang kuat, perusahaan akan kesulitan membuat pencadangan yang memadai.
Baca Juga
Tumbuh 15%, Amar Bank (AMAR) Cetak Laba Bersih Rp 174,6 Miliar di Kuartal III 2025
Kredit tumbuh 35%, target ROE double digit
Dari sisi pertumbuhan bisnis, Amar Bank mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan kredit sekitar 35% secara year on year (yoy) pada 2025. Penyaluran kredit didominasi oleh sektor produktif di segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Secara pertumbuhan, Amar Bank ini berhasil tumbuh secara cukup baik. Kreditnya tumbuh di kisaran 35% (yoy), di mana penyaluran kredit kita ini sudah pasti kita selalu melayani segmen UMKM, sehingga penyaluran kredit kita ini didominasi oleh sektor produktif di segmen UMKM,” ujar Yosua.
Ke depan, Amar Bank menargetkan return on equity (ROE) tumbuh double digit dalam kurun waktu dua tahun. Target ini mencerminkan keyakinan perusahaan atas kekuatan model bisnis yang dijalankan.
“Ini bisa dibilang menjadi cerminan atas bisnis model kita yang memang sudah kuat dan kokoh, serta ini merupakan wujud dari komitmen kita dari sisi manajemen kepada para pemegang saham,” kata Yosua.

