Bos BRI Sebut Likuiditas Perbankan Solid, Tapi Tantangan Dari Sisi Permintaan Kredit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Industri perbankan nasional dinilai berada dalam posisi yang solid untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan. Likuiditas dan permodalan tercatat tetap kuat, namun perlambatan permintaan kredit menjadi tantangan utama yang dihadapi sektor perbankan pada 2025.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) Hery Gunardi mengungkapkan, berdasarkan data November 2025, kondisi likuiditas perbankan masih sangat memadai.
“Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) kembali menguat hingga double digit sebesar 11,4% secara year on year (yoy) di bulan November 2025, dengan loan to deposit ratio (LDR) terjaga di kisaran 84%,” ujarnya, dalam webinar OJK Institute, Kamis (19/2/2026).
Baca Juga
Ketidakpastian Global Meningkat, Bos BRI: Industri Keuangan Harus Perkuat Resiliensi
Dari sisi permodalan, capital adequacy ratio (CAR) industri tercatat berada di level 26%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Buffer modal yang tebal ini memberikan daya tahan terhadap volatilitas sekaligus ruang yang cukup untuk mendorong pertumbuhan kredit secara prudent dan berkelanjutan.
Meski begitu, lanjut Hery, pertumbuhan kredit secara tahunan masih berada di level single digit hingga Desember 2025, meskipun telah menunjukkan perbaikan dibanding Juni 2025. Perlambatan tersebut bukan disebabkan keterbatasan likuiditas, melainkan faktor permintaan.
“Data survei Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa perlambatan kredit saat ini lebih dipengaruhi faktor demand-nya. Permintaan kredit baru menurun di sebagian besar segmen, terutama kredit konsumsi dari 62,9% menurun menjadi 13,4% dan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) dari 78,4% menurun menjadi 58,8%,” katanya.
Baca Juga
BRI 130 Tahun: Dari Bank Rakyat Menjadi Bank Universal Indonesia
Di lain sisi, rata-rata undisbursed loan justru meningkat menjadi 10,22%. Artinya, fasilitas kredit yang telah disetujui dan likuiditas sudah tersedia, namun realisasi penarikan tertahan.
“Ini mencerminkan sikap wait and see dari dunia usaha dan juga rumah tangga sebagai nasabah individu. Jadi tantangannya bukan pada suplai dana, tetapi pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan,” ucap Hery.
“Yang dibutuhkan bukan sekedar likuiditas tambahan, tetapi penguatan keyakinan pelaku usaha agar ekspansi kembali berjalan,” sambungnya.
Hery menjelaskan, pelemahan kredit sangat berkaitan dengan perlambatan tiga sektor utama penyumbang PDB (produk domestik bruto), yaitu manufaktur, pertanian, dan perdagangan.
“Manufaktur yang menyumbang hampir 20% dari PDB mempengaruhi kebutuhan modal kerja dan investasi. Perdagangan sangat sensitif terhadap daya beli ketika konsumsi melemah, perputaran stok melambat, dan kebutuhan kredit juga ikut menurun,” ujarnya.
“Sementara pertanian dengan serapan tenaga kerja yang terbesar berdampak langsung pada segmen mikro dan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah),” sambung Hery.
Ketiga sektor tersebut, kata dia, juga merupakan sektor padat karya dengan kontribusi besar terhadap total kredit dan penyerapan tenaga kerja. Namun, sektor ini paling sensitif terhadap perlambatan ekonomi dan tekanan daya beli.
“Moderasi kredit saat ini bukan semata faktor likuiditas. Walaupun sudah diguyur dari pemerintah Rp 200 triliun likuiditas tambahan, tetapi sangat dipengaruhi oleh struktur sektoral ekonomi kita,” kata Hery.
Oleh karena itu, menurutnya, diversifikasi pembiayaan ke sektor bernilai tambah tinggi menjadi kunci untuk mengurangi sensitivitas terhadap siklus ekonomi.

