Perencanaan Pensiun Jadi Isu Mendesak, Bank DBS Indonesia Dorong Kesadaran Masyarakat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Perubahan struktur demografi menjadikan isu pensiun semakin mendesak, termasuk di Indonesia. Dalam dua dekade ke depan, proporsi penduduk lanjut usia diperkirakan meningkat signifikan, sementara bonus demografi perlahan menyusut.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2035, lebih dari 14% penduduk Indonesia diproyeksikan berusia di atas 60 tahun. Angka tersebut diperkirakan terus naik hingga mencapai sekitar 20% atau setara 63 juta jiwa pada 2045.
Pergeseran ini tentunya menuntut kesiapan ekosistem, kebijakan, serta infrastruktur yang mampu mendukung proses penuaan yang sehat, inklusif, dan tetap produktif.
Merespon tantangan itu, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye ‘Pensiun Gak Susah’, yang bertujuan mendorong masyarakat untuk mulai merencanakan masa pensiun sejak dini.
Baca Juga
Bank DBS Indonesia Optimistis Penjualan Produk 'Bancassurance' Tumbuh Dua Digit di 2026
Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia Mona Monika mengungkapkan, perubahan demografi menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan.
Perencanaan pensiun, kata dia, perlu disesuaikan dengan dinamika kehidupan dan dimulai lebih awal agar masyarakat dapat menjalani setiap fase usia dengan lebih bermakna.
“Bank DBS Indonesia berkomitmen memberdayakan populasi menua, salah satunya melalui panduan dan wawasan menyeluruh untuk membantu masyarakat merencanakan pensiun secara holistik,” ujarnya, di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Di sisi bersamaan, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator yang dirancang untuk membantu masyarakat memahami estimasi kebutuhan pensiun secara lebih terarah.
Baca Juga
Ilustrasi perhitungan menunjukkan bahwa seseorang yang mulai merencanakan pensiun di usia produktif perlu mempertimbangkan berbagai faktor, seperti inflasi, imbal hasil investasi, serta masa pensiun yang semakin panjang.
Dengan asumsi inflasi 3,1% dan imbal hasil investasi tahunan rata-rata 5,57%, kebutuhan dana pensiun dapat mencapai miliaran rupiah untuk menopang kehidupan selama belasan tahun masa pensiun.
Kesiapan pensiun tidak semata soal dana. Transisi menuju masa pensiun kerap membawa perubahan besar dalam rutinitas, peran sosial, dan rasa tujuan hidup. Tanpa perencanaan matang, fase ini berpotensi menimbulkan tantangan psikologis dan sosial.
Founder & CEO QM Financial Ligwina Hananto menilai, masih banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu kondisi ideal. Padahal, kunci utama bukan kesempurnaan, tapi konsistensi dalam memulai dan menyesuaikan strategi dengan kondisi hidup saat ini.
“Salah satu strategi praktis yang bisa diterapkan adalah formula pos pengeluaran 10/20/30/40. Dari pendapatan bulanan, idealnya minimal 10% dialokasikan untuk menabung atau investasi, maksimal 20% untuk gaya hidup, maksimal 30% untuk cicilan, dan sisanya 40% untuk kebutuhan rutin sehari-hari,” katanya.
Sementara itu, Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo menyatakan, kombinasi antara investasi dan proteksi menjadi penting untuk menjaga daya beli dan kemandirian di usia lanjut.
“Dengan menggabungkan investasi yang bijak dan proteksi melalui asuransi, nasabah dapat menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, tetap mandiri, dan menikmati masa tua dengan percaya diri,” ucapnya.

