Kadin Nilai Program MBG Dorong Dunia Usaha dan Ketahanan Pangan Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menilai, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya berdampak besar terhadap peningkatan kualitas generasi muda, tapi juga membuka peluang ekonomi yang signifikan bagi dunia usaha serta memperkuat ketahanan pangan nasional.
Ia menilai, MBG menjadi fondasi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia ke depan, mulai dari calon insinyur, doktor, guru, hingga atlet.
“Kalau kita bicara untuk kepentingan, tentunya anak-anak generasi masa depan sangat-sangat jelas (berdampak). Dari 82 juta (penerima MBG di 2026), sudah 55 juta dan ini sangat berarti,” ujar Anindya, usai Diskusi MBG Outlook: Masa Depan Gizi Anak Indonesia, yang digelar di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Baca Juga
Kadin-Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan Jelang Jakarta Food Security Summit 2026
Dari sisi dunia usaha, lanjut dia, Kadin turut berpartisipasi aktif dalam pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Dari target 30.000 dapur secara nasional, pemerintah telah mengumumkan lebih dari 20.000 dapur yang telah dibangun.
“Kadin itu berpartisipasi 1.000 dari 20.000 (dapur MBG) itu. Yang artinya, Kadin itu bersama anggotanya menggelontorkan gabungan nantinya total Rp 1,5 triliun sampai Rp 2 triliun, dan kalau misalnya ada 50 per dapur, artinya dikalikan 1.000, 50.000 itu suatu kebanggaan buat kita semua,” kata Anindya.
Sejalan dengan itu, ia mengapresiasi Gabungan Pengusaha Makanan Bergizi Indonesia (Gapembi) yang tengah berproses menjadi anggota Kadin, dan aktif mendukung pelaksanaan MBG di lapangan.
Baca Juga
Lebih lanjut, Anindya menyatakan bahwa MBG merupakan pintu masuk strategis bagi penguatan ketahanan pangan nasional, sejalan dengan agenda hilirisasi di sektor pertanian.
“Ketahanan pangan ini ujungnya adalah fokus kepada hilirisasi, hilirisasi dari agrikultur, hilirisasi hanya masuk akal, kalau misalnya ada tentunya customer-nya atau yang menggunakan hasil,” ucapnya.
“Di sini dengan MBG, fakta dari 52 juta (penerima MBG) hari ini menuju 82 juta artinya bisa dilihat bahwa dibutuhkan 52 juta telur, dibutuhkan juga paha ayam 52 juta, sayur-mayur, ikan dan lain-lain dan setiap dari daerah tentu mempunyai proteinnya sendiri, jadi ini sangat bagus sekali,” sambung Anindya.
Menurutnya, antusiasme di daerah terhadap program ini sangat tinggi. Pemerintah daerah dan pelaku usaha lokal berlomba-lomba menghadirkan titik MBG di wilayahnya, bahkan dengan mayoritas pendanaan masih menggunakan dana sendiri.
Anindya mengatakan, jika target 30.000 dapur dengan rata-rata 50 tenaga kerja per titik tercapai, maka akan tercipta sekitar 1,5 juta lapangan kerja baru. Dampaknya terhadap ekonomi dinilai signifikan.
“1,5 juta berdasarkan ukuran ekonomi bisa membuat pertumbuhan tambahan di PDB (produk domestik bruto) 3,5%. Jadi angka ini bukan angka yang main-main dan tentu bertahap sehingga kalau ada target 8% (pertumbuhan ekonomi), bukan tidak mungkin ciptakan salah satunya dari ini,” ujarnya.
Selain membuka lapangan kerja, kata Anindya, MBG juga menciptakan peluang luas bagi anggota Kadin di daerah, mulai dari pasokan ayam, telur, tahu, tempe, sayuran, buah-buahan, susu, hingga pengembangan sektor hulu.
“Selamat kepada teman-teman di Kadin dari Satgas MBG dan juga selamat Gapembi semoga semua ini bermanfaat berkelanjutan dan tentunya bisa menghasilkan perekonomian sendiri untuk Indonesia,” katanya.

