Ekonom HSBC: Permintaan Kredit Korporasi Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari menilai, permintaan kredit mulai meningkat, meski belum sekuat periode sebelumnya. Kenaikan permintaan kredit terutama terjadi pada segmen korporasi.
Pranjul menjelaskan, pertumbuhan kredit perbankan tidak semata-mata ditentukan oleh suku bunga, melainkan lebih dipengaruhi oleh kemampuan peminjam untuk meningkatkan pinjamannya.
”Pertumbuhan kredit memiliki banyak pendorong dan suku bunga adalah salah satunya. Tapi kemauan peminjam untuk meminjam lebih banyak uang mungkin lebih penting,” ujarnya, dalam Online Media Briefing HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026, Senin (12/1/2026).
Menurut Pranjul, permintaan kredit saat ini memang belum sekuat periode sebelum-sebelumnya, meski sudah menunjukkan perbaikan sepanjang 2025 setelah sempat sangat lembah di awal. Seiring berjalannya waktu, HSBC melihat permintaan kredit, khususnya dari segmen korporasi, mulai mengalami peningkatan.
“Di dalam korporasi, kita melihat permintaan dari perusahaan kecil juga meningkat. Dan untuk perusahaan kecil, ketika memecahnya berdasarkan penggunaan, kita melihat bahwa permintaan investasi untuk kredit meningkat,” katanya.
Baca Juga
Ekonom HSBC Sebut 2 Hal Ini Bisa Jadi Pendorong Masuknya Investasi Asing
Meski begitu, Pranjul menekankan bahwa pemulihan permintaan kredit belum merata di seluruh segmen. Permintaan pinjaman rumah tangga masih tergolong lemah, seiring dengan terbatasnya pertumbuhan upah dan kehati-hatian konsumsi rumah tangga.
“Sejauh kita melihat penjualan mobil agak lemah, saya tidak terkejut bahwa pinjaman konsumen juga agak lemah. Tapi saya pikir mengimbangi hal itu, kita telah melihat pinjaman oleh perusahaan, khususnya perusahaan kecil cukup kuat,” ucapnya.
Lebih lanjut, Pranjul menilai pertumbuhan kredit sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nominal. Ia menjelaskan, rendahnya inflasi di 2025 akibat penurunan harga komoditas turut menahan laju PDB nominal.
“Pertumbuhan PDB nominal kemungkinan akan sekitar 1 hingga 1,5 poin persentase lebih tinggi pada tahun 2026 dibandingkan tahun 2025. Dan itu juga dapat meningkat permintaan pinjaman,” ujarnya.
“Jadi, pertumbuhan pinjaman bisa sedikit lebih tinggi sekitar 1 hingga 1,5 poin persentase dibandingkan tahun lalu, sambung Pranjul.
Baca Juga

