Rupiah Tergelincir ke Rp 16.768 per US$, Permintaan Aset Aman Meningkat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (6/1/2026). Rupiah melemah 28 poin atau turun 0,17% di posisi Rp 16.768 per US$.
Meski melemah 0,05% indeks dolar AS atau DXY masih bergerak di kisaran 98,22.
Melemahnya DXY direspons sejumlah penguatan mata uang negara-negara mitra dagang Indonesia. Dolar Singapura menguat 0,16%, baht Thailand menguat 0,33%, dan ringgit Malaysia menguat 0,42%. Yuan China juga menguat 0,07%.
Baca Juga
Rupiah Ditutup Melemah, Tekanan AS ke Venezuela Mengerek Dolar AS
Penguatan juga terlihat pada euro Uni Eropa yang menguat 0,11% dan poundsterling Britania Raya yang menguat 0,07%.
Kondisi yang berbeda dihadapi rupee India, yen Jepang, dan peso Filipina. Rupee melemah 0,1%, yen melemah 0,01%, dan peso Filipina melemah 0,03%.
Baca Juga
Dolar AS Perkasa, Rupiah Tertekan di Tengah Krisis Venezuela
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro melihat DXY mereda seiring turunnya kekhawatiran terkait situasi di Venezuela dan data Institute for Supply Management (ISM) Manufacturing PMI yang lebih lemah dari perkiraan.
ISM Manufacturing PMI AS mengalami penurunan tiga bulan berturut-turut menjadi 47,9 pada Desember 2025. Angka ini terendah sejak Oktober 2024. Data ini menunjukkan aktivitas manufaktur AS yang mengalami kontraksi lebih cepat dipicu oleh penurunan produksi dan ketersediaan.
Sementara itu, pasar saham AS menguat dipimpin oleh sektor saham di sektor energi dan keuangan. Ini terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump mendorong perusahaan-perusahaan AS untuk berinvestasi pengilangan minyak di Venezuela.
Merespons kebijakan itu saham Chevron melonjak 5,1% dan Goldman Sachs naik 3,7%. Kenaikan juga diikuti Tesla yang naik 3,1% dan Amazon, yang naik, 2,9%.
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia yang naik menjadi 2,92% pada Desember 2025. Angka ini merupakan level tertinggi sejak April 2024, namun masih berada pada kisaran target Bank Indonesia yang sebesar 1,5-3,5%.
Surplus neraca perdagangan Indonesia juga menyempit menjadi US$ 2,66 miliar pada November 2025. Angka ini turun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 4,34 miliar.

