Kaspersky: Generasi Muda Andalkan AI Saat Liburan, Industri Digital Makin Moncer
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kecerdasan buatan (AI) memainkan peran strategis dalam mendorong aktivitas ekonomi digital, terutama selama musim liburan. Penelitian terbaru Kaspersky mengungkapkan, Generasi Z dan milenial menjadi kelompok paling aktif memanfaatkan AI, bukan hanya untuk belanja dan perencanaan, tetapi juga sebagai pendamping digital yang multifungsi.
Survei Kaspersky, Jumat (2/1/2026) menunjukkan, sebanyak 74% responden global berencana menggunakan AI selama libur Nataru 2026. Antusiasme tertinggi datang dari kelompok usia 18-34 tahun, dengan tingkat adopsi mencapai 86%. Tren ini menandai peluang besar bagi industri digital, mulai dari platform AI, e-commerce, pariwisata, hingga layanan keamanan siber.
Dari segi konsumsi, AI semakin berperan sebagai pendorong efisiensi belanja. Lebih dari separuh responden menggunakan AI untuk mencari resep (56%), restoran dan akomodasi (54%), serta membandingkan harga dan ulasan produk. Separuh responden bahkan memanfaatkan AI sebagai asisten belanja untuk menyusun daftar kebutuhan dan mencari penawaran terbaik.
Kaspersky menilai tren ini berdampak langsung pada peningkatan transaksi digital dan personalisasi layanan. Bagi pelaku usaha, AI membuka peluang untuk menawarkan produk dan promosi yang lebih relevan sesuai preferensi konsumen, sekaligus memperkuat daya saing di tengah ketatnya persaingan ekonomi digital.
Tak hanya itu, AI juga berkembang sebagai penghasil ide dan perencana aktivitas. Sekitar 50 persen pengguna mengandalkan AI untuk mencari ide hadiah, cara merayakan liburan, hingga mengatur waktu luang. Generasi muda bahkan mulai memanfaatkan AI sebagai perencana anggaran, sebuah sinyal meningkatnya kepercayaan terhadap teknologi dalam pengelolaan keuangan pribadi.
Baca Juga
Bos ITSEC Ungkap Potensi Indonesia Pimpin Ekonomi Digital Lewat Keamanan Siber Global
Namun demikian, di balik peluang ekonomi tersebut, Kaspersky mengingatkan adanya risiko keamanan data yang tidak boleh diabaikan. Ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi membuka celah kebocoran data, terutama jika pengguna sembarangan membagikan informasi pribadi atau mengklik tautan yang dihasilkan chatbot.
“Seiring pesatnya perkembangan model AI, kemampuan mereka berinteraksi dengan pengguna memang semakin canggih. Namun, AI tetap belajar dari data internet yang tidak selalu bebas dari bias dan kesalahan,” ujar Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, Vladislav Tushkanov.
Ia menekankan pentingnya sikap kritis dalam menggunakan AI, terutama dalam konteks ekonomi digital. Pengguna disarankan memeriksa kebijakan privasi, membatasi berbagi data sensitif, serta menggunakan solusi keamanan siber yang mampu mendeteksi phishing berbasis AI.
Bagi industri, tren ini menegaskan bahwa pertumbuhan bisnis AI harus berjalan seiring dengan penguatan kepercayaan dan perlindungan data. Dengan keseimbangan tersebut, AI berpotensi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan, sekaligus aman bagi konsumen.

