Kinerja Perbankan Bakal Bangkit di Kuartal II, Ini Syaratnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat Perbankan sekaligus Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menyatakan bahwa sektor perbankan di Indonesia diprediksi akan bangkit di kuartal II-2026 jika beberapa faktor pendukung dapat terkendali. Faktor-faktor tersebut antara lain pemulihan daya beli, inflasi yang terkendali, biaya dana yang efisien, dan likuiditas yang terjaga baik.
Jika faktor-faktor tersebut dapat terkendali di kuartal I-2026, maka sektor perbankan diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya di kuartal II-2026. Menurutnya, pemulihan daya beli dan peningkatan permintaan kredit menjadi pendorong utama pertumbuhan bagi sektor perbankan.
Trioksa menjelaskan, sektor perbankan di tahun 2025 menghadapi sesuatu yang cukup menantang, terutama terkait ekspansi kredit yang berkualitas, menjaga likuiditas dan menjaga biaya dana, dan biaya operasional yang dapat tetap rendah. Kondisi semakin berat karena permintaan kredit juga menurun seiring dengan daya beli yang belum sepenuhnya pulih.
"Untuk bangkit, butuh trigger dari luar seperti pemulihan daya beli, inflasi yang terjaga rendah, biaya dana yang efisien dan likuiditas terjaga baik. Bila dapat terkendali di kuartal I tahun 2026 maka di kuartal II akan membaik kinerja bank," ujar Trioksa kepada investortrust.id, Jumat (2/1/2026)
Selain itu, peran teknologi juga diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi perbankan dan mengurangi biaya operasional. Peran teknologi dalam sektor perbankan telah terbukti efektif dalam meningkatkan efisiensi. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya cabang bank yang tidak efisien ditutup berkat adopsi teknologi.
"Peran teknologi cukup baik dan mendorong efisiensi perbankan sampai saat ini terbukti dengan semakin banyaknya cabang bank yang tidak efisien ditutup," ungkap Trioksa.
Meskipun demikian, Trioksa membeberkan bahwa proyeksi tahun 2026 masih akan tetap menantang. Oleh karena itu, pemerintah dan regulator diharapkan dapat memainkan peran penting dalam mendukung pemulihan sektor perbankan di Indonesia.
Baca Juga
Menurut Trioksa, dukungan tersebut dapat dilakukan dengan menggerakkan ekonomi sehingga daya beli meningkat, menjaga inflasi rendah, dan mendorong likuiditas dana bank. Dengan demikian, sektor perbankan dapat meningkatkan kinerjanya dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.
"Dukungannya dengan menggerakkan ekonomi sehingga daya beli meningkat, menjaga inflasi rendah dan mendorong likuiditas dana bank," pungkas Trioksa.
Otoritas Jasa Keuangan melaporkan bahwa kinerja intermediasi perbankan relatif stabil dengan profil risiko yang terjaga. Pada Oktober 2025, kredit tumbuh sebesar 7,36% year on year (yoy) menjadi Rp 8.220,21 triliun.
Di sisi lain, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,25% dan NPL net sebesar 0,90%. Loan at Risk (LaR) juga relatif stabil, tercatat sebesar 9,41% atau turun dibandingkan bulan sebelumnya, yakni 9,52% di September 2025. Selain itu, CAR industri perbankan masih tergolong kuat yakni sebesar 26,38% pada Oktober 2025.
Baca Juga
Sektor Perbankan Jadi Penyumbang Dividen Terbesar 2025, Capai Rp 80,34 Triliun

