Survei Zurich Ungkap Risiko Utama Bisnis Negara G20: Perlambatan Ekonomi Hingga Ancaman Misinformasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketidakpastian ekonomi masih menjadi risiko utama yang membayangi para pemimpin bisnis di negara-negara G20. Selain itu, fragmentasi sosial dan ancaman teknologi, termasuk misinformasi dan kesenjangan perlindungan sosial, kini semakin menonjol sebagai tantangan serius bagi dunia usaha global.
Temuan tersebut tertuang dalam Executive Opinion Survey 2025 yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEF) bersama Zurich Insurance Group dan Marsh McLennan. Survei ini melibatkan lebih dari 11.000 pemimpin bisnis dari 116 negara dan memetakan lima risiko terbesar dalam dua tahun ke depan.
CEO EMEA & Bank Distribution Zurich, Alison Martin, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan finansial masyarakat. Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk menjawab tantangan kompleks yang mengancam stabilitas sosial dan ekonomi.
”Isu seperti pensiun dan kesehatan masyarakat bukan lagi sekadar urusan pemerintah, melainkan sudah menjadi prioritas ruang rapat direksi. Dengan bersinergi lintas sektor, kita dapat membantu masyarakat membangun ketahanan finansial,” ujarnya, dalam keterangan pers, belum lama ini.
Baca Juga
Bank Neo Commerce Gandeng Zurich Jalin Kerja Sama Bancassurance
Hasil survei menunjukkan, perlambatan ekonomi menempati posisi teratas sebagai risiko utama selama tiga tahun berturut-turut dan menjadi perhatian terbesar di enam negara G20, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris.
Risiko sosial terkait layanan publik dan perlindungan sosial yang tidak memadai berada di posisi kedua, disusul kurangnya kesempatan ekonomi dan pengangguran di peringkat ketiga.
Inflasi menempati posisi keempat, sementara ancaman teknologi terkait misinformasi dan disinformasi masuk lima besar untuk pertama kalinya, berada di posisi kelima.
Baca Juga
Asuransi Diwajibkan Punya Dewan Penasihat Medis, Ini yang Bakal Dilakukan Zurich Insurance
Masuknya risiko misinformasi dan disinformasi mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang berpotensi memicu perang informasi di tengah ketegangan geopolitik.
Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi pemilu, pasar global, hingga mengancam keamanan siber dan infrastruktur penting.
Menariknya, risiko peristiwa cuaca ekstrem yang pada tahun sebelumnya masuk lima besar, kini tidak lagi termasuk dalam daftar risiko utama. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana polarisasi sosial dan politik memengaruhi persepsi serta prioritas dunia usaha terhadap isu perubahan iklim.

