OJK Optimis Pertumbuhan Perbankan Tetap Positif di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa pertumbuhan perbankan masih akan positif. Hal itu berdasarkan laporan Rencana Bisnis Bank (RBB) yang disampaikan pada akhir November 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan, pertumbuhan kredit pada tahun depan diproyeksikan akan sedikit meningkat dibandingkan tahun 2025. Menurut Dian, ruang penurunan suku bunga global dan domestik masih tersedia di tahun depan.
"Sehingga diharapkan dapat berdampak positif pada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan ketersediaan likuiditas dan membantu perbankan dalam melaksanakan penyaluran kredit," ujar Dian dalam jawaban tertulis Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan November 2025, Jumat (19/12/2025).
Selain itu, Dian menjelaskan bahwa penurunan suku bunga secara global juga diharapkan dapat mendorong meningkatnya demand kredit, sehingga pertumbuhan kredit diharapkan tetap kuat. Dikatakan Dian, ketahanan perbankan yang dilihat dari tingkat permodalan juga akan tetap kuat dan cukup tinggi, berfungsi sebagai buffer terhadap ketidakpastian ekonomi global dan mendukung pertumbuhan.
"Untuk tahun 2026, kami melihat bahwa pertumbuhan perbankan masih akan terus positif. Proyeksi penurunan suku bunga global dan domestik yang diperkirakan masih akan terus berlanjut di tahun depan diharapkan dapat berdampak positif pada penghimpunan dana perbankan Indonesia, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan DPK dan menurunkan biaya dana," jelas Dian.
Dian menuturkan, jika penghimpunan dana cukup positif, maka ketersediaan likuiditas akan terjaga dan membantu perbankan dalam melaksanakan penyaluran kredit. Selain itu, penurunan suku bunga secara global juga diharapkan dapat mendorong meningkatnya demand kredit untuk berbagai kepentingan ekonomi, sehingga pertumbuhan kredit diharapkan tetap kuat.
Baca Juga
Mau Nabung Dulu! Desember Ini Purbaya Tak Akan Tambah Dana ke Perbankan
Kemudian, rasio NPL perbankan juga diproyeksikan terus membaik dan berada di kisaran rendah (+-2%) meskipun tekanan tetap datang dari segmen kredit UMKM sebagai sektor yang paling cepat tumbuh saat ekonomi ekspansif, tapi juga paling cepat tertekan saat kondisi makro melemah. Selanjutnya, implementasi berbagai program pemerintah serta dukungan optimal dari kebijakan fiskal, kebijakan perdagangan, kebijakan industri, dan kebijakan investasi akan meningkatkan efek multiplier ke konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha.
"Sehingga, juga mendorong permintaan terhadap kredit perbankan," kata Dian.
Kinerja intermediasi perbankan relatif stabil dengan profil risiko yang terjaga. Pada Oktober 2025, kredit tumbuh sebesar 7,36% yoy menjadi Rp 8.220,2 triliun.
Di sisi lain, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,25% dan NPL net sebesar 0,90%. Loan at Risk (LaR) juga relatif stabil, tercatat sebesar 9,41% atau turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesa 9,52%.
Sejalan dengan hal tersebut, Dian membeberkan bahwa sebagai bentuk mitigasi risiko kredit untuk mengantisipasi jika terjadi perubahan kondisi eksternal yang dapat berpengaruh terhadap kinerja debitur, perbankan senantiasa membentuk CKPN sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku.
"Kami melihat bahwa pembentukan CKPN tersebut masih tergolong wajar dan perlu dilakukan sebagai langkah antisipatif dan bagian dari penerapan prinsip prudensial dalam rangka menjaga kualitas kredit," jelas Dian.
Secara tren, pembentukan CKPN menunjukkan penurunan secara industri, namun masih berada di level yang memadai. Hal ini sejalan dengan normalisasi kualitas kredit, utamanya tecermin dari LaR yang semakin menurun.
"Sebagai lembaga intermediasi, industri perbankan memiliki peranan penting sebagai agen ekonomi dan pembangunan nasional dalam bentuk penyaluran kredit dengan tetap menjalankan tata kelola yang baik, memperhatikan prinsip kehati-hatian serta manajemen risiko yang memadai, sehingga kinerja keuangan industri perbankan dapat tetap baik dan terjaga secara berkelanjutan," pungkas Dian.

