MSIG Indonesia Perkuat Manajemen Risiko dengan Drone Survey
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sebagai upaya untuk memperkuat manajemen risiko bagi nasabah korporasi, khususnya pemegang polis asuransi properti, PT Asuransi MSIG Indonesia merilis Drone Survey yakni layanan survei aset beresolusi tinggi.
Direktur Marketing MSIG Indonesia Tomosuke Tsuruoka mengungkapkan, layanan ini menjadi bagian dari loss control service MSIG indonesia yang diberikan tanpa tambahan biaya.
Melalui teknologi drone, nasabah dapat memperoleh pemahaman awal mengenai kondisi aset, termasuk area yang sulit dijangkau seperti atap atau bagian eksterior bangunan. Pendekatan ini memungkinkan deteksi dini potensi masalah, sekaligus meningkatkan keselamatan kerja sebab tidak lagi mengharuskan pemeriksaan manual di titik berisiko tinggi.
“Melalui Drone Survey Service ini, kami ingin membantu nasabah mengantisipasi risiko sejak dini,” ujar Tomosuke, dalam keterangan pers, Rabu (26/11/2025).
Menurutnya, inisiatif ini sejalan dengan arah kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas layanan dan perlindungan konsumen.
“Survei yang sebelumnya memerlukan akses ke area berbahaya kini dapat dilakukan dengan lebih aman, dan hasilnya bisa langsung dimanfaatkan untuk perawatan aset maupun perencanaan operasional,” kata Tomosuke.
Baca Juga
Dengan kemampuan mengambil gambar beresolusi tinggi dari berbagai sudut, drone membantu tim survei melihat kondisi beragunan dengan jauh lebih jelas dibandingkan metode tradisional.
Masalah seperti korosi, retakan, panel yang terlepas, hingga tanda kebocoran dapat terdeteksi lebih cepat. Pada kasus tertentu, kamera thermal atau infrared juga digunakan untuk mengidentifikasikan titik panas serta anomali temperatur yang tidak terlihat melalui pemeriksaan visual biasa.
Selama survei, drone merekam visual menyeluruh dari bangunan yang diperiksa. Data tersebut membantu nasabah menentukan prioritas tidak lanjut berdasarkan hasil visual yang lebih komprehensif.
“Ketika kondisi aset dapat diketahui lebih awal, perusahaan memiliki ruang untuk merespon secara lebih cepat dan menetapkan prioritas penanganan dengan lebih tepat,” ucap Tomosuke.

