Bagikan

Gempa Bumi Tak Bisa Diprediksi, MAIPARK Tekankan Pentingnya Kelola Risiko dengan Pendekatan Konservatif

Poin Penting

Risiko gempa bumi di Indonesia sangat tinggi karena berada di pertemuan empat lempeng besar dunia.
Sejumlah gempa besar seperti Aceh, Padang, Lombok, Palu, hingga Cianjur menunjukkan bahwa kekuatan gempa bisa jauh melampaui prediksi.
Perlindungan asuransi properti masih sangat rendah di Indonesia, hanya 0,1% rumah tinggal yang memiliki polis asuransi gempa.

JAKARTA, investortrust.id - Indonesia sebagai ‘mahkota’ cincin api dunia terus menghadapi ancaman gempa bumi yang datang tanpa peringatan pasti. PT Reasuransi MAIPARK Indonesia menekankan pentingnya bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mengelola risiko dengan pendekatan konservatif, bukan hanya berpatokan pada data historis. 

“Gempa bumi adalah fenomena alam yang pasti terjadi di Indonesia karena kita berada dalam pertemuan empat lempeng besar dunia. Yang menjadi pertanyaan selalu bukan apakah gempa akan terjadi, melainkan kapan dan di mana. Itu sebabnya risiko harus dikelola se-konservatif mungkin,” ujar Strategic Planning & Risk Management Group Head MAIPARK Indonesia Ruben Damanik, dalam Media Workshop ‘Jaga Aset, Jaga Bisnis: Asuransi Properti di Tengah Risiko Bencana’, secara daring, Kamis (2/10/2025). 

Menurutnya, gempa merupakan proses geologi berulang yang terjadi akibat akumulasi energi di zona patahan. Ketika batuan tak lagi mampu menahan tekanan, energi tersebut dilepaskan dalam bentuk guncangan. 

“Indonesia tak hanya berada di wilayah ring of fire, tapi justru menjadi crown atau mahkota dari cincin api itu sendiri. Artinya, potensi ancamannya lebih besar dibanding banyak negara lain, bahkan Jepang,” kata Ruben. 

Baca Juga

Gempa Bumi Magnitudo 5,8 Guncang Sinabang Aceh 

Ia mengingatkan, catatan gempa besar di Indonesia mulai dari Aceh, Padang, Lombok, Palu, hingga Cianjur, memperlihatkan bahwa kejadian gempa bisa melampaui estimasi para peneliti. Misalnya gempa Aceh 2024 yang mencapai magnitudo 9,1, jauh di atas perkiraan awal. Itu sebabnya, proyeksi dan data historis tidak bisa menjadi acuan utama.

“Pentingnya asuransi properti untuk melindungi aset kita di wilayah yang kita pahami sebagai mempunyai potensi tinggi terkait dengan gempa bumi ini,” ucap Ruben. 

Baca Juga

BMKG: Gempa Bumi M7,5 di Perairan Amerika Selatan Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Sayangnya, lanjut dia, penetrasi asuransi gempa di Indonesia masih sangat rendah. Data MAIPARK mencatat, hanya 0,1% rumah tinggal yang memiliki perlindungan asuransi. Padahal, kerugian ekonomi akibat gempa jauh lebih besar ketimbang kerugian yang dilindungi asuransi.

“Ini menjadi sebuah keresahan dan tantangan bagaimana literasi dari asuransi ini masih sangat rendah, khususnya untuk di rumah tinggal dan juga di medium enterprise,” ujar Ruben. 

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024