Bank Mandiri Optimistis Likuiditas Perbankan Makin Baik, Didorong Kebijakan Akomodatif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang solid. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menilai prospek likuiditas perbankan semakin membaik, seiring dukungan kebijakan moneter dan fiskal yang akomodatif.
Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Ari Rizaldi mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan II 2025 yang mencapai 5,12% secara year on year (yoy) menjadi sinyal positif, terutama ditopang konsumsi masyarakat, realisasi belanja pemerintah, serta kinerja ekspor.
Ia menyatakan, dengan laju inflasi yang stabil di level 2,37% (yoy) per Juli 2025, indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menguat ke level 7.936, dan kembalinya arus modal asing ke pasar obligasi dan saham membuat prospek pasar keuangan domestik lebih kondusif.
“Kondisi ini membuat Bank Indonesia (BI) jadi ada peluang kemarin menurunkan suku bunga sebesar dua puluh lima basis poin pada bulan Agustus ke level 5%,” ujar Ari, dalam acara Mandiri Economic Outlook Q3 2025, secara daring, Kamis (28/8/2025).
Menurutnya, langkah kebijakan moneter yang akomodatif tersebut akan mendorong perbaikan kondisi likuiditas industri perbankan, di tengah pertumbuhan kredit yang mencapai 7,03% (yoy), serta dana pihak ketiga (DPK) yang stabil di kisaran 7% (yoy).
“Sehingga, kalau kita lihat rasio loan to deposit ratio (LDR)-nya masih berada di level 86,5%. Hal ini tentu saja mencerminkan bahwa kondisi likuiditas industri yang relatif stabil,” kata Ari.
“Ke depan, kami masih melihat peluang untuk terus membaiknya kondisi likuiditas ini, yang mana didukung juga oleh kebijakan yang ekspansif baik dari sisi moneter maupun fiskal,” sambungnya.
Meskipun tantangan eksternal maupun internal masih tetap besar, lanjut Andry, Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini tetap mampu tumbuh di kisaran 4,9% hingga 5,1%.
“Untuk menjaga momentum tersebut, tentu diperlukan dukungan kebijakan yang countercyclical baik dari sisi moneter maupun juga fiskal. Kebijakan moneter BI itu sendiri diperkirakan akan tetap akomodatif selama stabilitas harga dan pasar keuangan itu terjaga,” ucap Ari.
“Kalau kita lihat dari kebijakan fiskal itu perlu lebih ekspansif tentunya melalui percepatan realisasi belanja agar dapat menjadi bantalan bagi dalam menghadapi ketidakpastian global,” katanya.

