Gelar Kelas Jurnalis, Perbanas Bahas Strategi Jaga Daya Beli Lewat Kajian PRIME 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) kembali menggelar Kelas Jurnalis Perbanas (KJP) kedua, di Griya Perbanas, Jakarta (20/8/2025). Kegiatan ini menghadirkan Ketua Bidang Riset & Kajian Ekonomi dan Perbankan Perbanas Aviliani, serta Chief Economist Perbanas Dzulfian Syafrian sebagai narasumber utama untuk membedah hasil Kajian PRIME 2025.
Kajian PRIME 2025 menunjukkan, meski inflasi berada di level rendah, daya beli masyarakat masih melemah. Konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) mengalami perlambatan.
Bahkan, fenomena makan tabungan (mantab) mulai marak, di mana sebagian masyarakat harus menarik simpanannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Hal ini menandakan tekanan pada kualitas keuangan rumah tangga sekaligus tantangan bagi likuiditas perbankan,” ujar Aviliani, di acara Kelas Jurnalis Perbanas 2025, di Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Baca Juga
Perbanas Tekankan Penurunan BI Rate Perlu Dibarengi Dorongan untuk Sektor Riil
Untuk memperbaiki daya beli, PRIME 2025 menekankan pentingnya mendorong sektor-sektor dengan efek ganda besar terhadap ekonomi. Salah satunya sektor pariwisata karena memiliki multiplier effect tinggi yang mampu menghidupkan rantai ekonomi dari makanan dan minuman, perdagangan, transportasi, hingga jasa.
Lalu, sektor perdagangan dan jasa yang tetap menjadi penopang besar PDB, terutama berkaitan dengan tren konsumsi domestik dan digital. Selain itu, sektor konstruksi dan infrastruktur yang meski porsinya relatif kecil namun dapat memberi dampak jangka panjang bila disesuaikan dengan roadmap nasional, misalnya lewat pengemgbangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk menarik investasi dan membuka lapangan kerja.
Aviliani menekankan bahwa kebijakan ekonomi perlu diarahkan pada sektor-sektor dengan daya dorong besar terhadap konsumsi.
Baca Juga
Perbanas Sebut Penurunan BI Rate Jadi 5% Dorong Stabilitas dan Pemulihan Ekonomi
Sementara itu, Dzulfian menyoroti perlunya strategi berbeda untuk kelas menengah atas dan menengah bawah. “Perlunya memperbaiki daya beli masyarakat kelas menengah atas yang menahan konsumsi akibat ketidakpastian, serta kelas menengah bawah yang meski pendapatannya meningkat, pengeluaran dan tabungannya justru menurun,” katanya.
Menurutnya, dengan memadukan strategi sektoral dan kebijakan yang berpihak pada daya beli masyarakat, diharapkan roda ekonomi dapat bergerak lebih seimbang.

