Pembiayaan Kendaraan Bekas dan EV Diprediksi Masih Tumbuh di 2025
JAKARTA, investortrust.id - Meski dihadapkan pada kondisi menantang termasuk kebijakan tarif proteksionis Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan tren penurunan penjualan kendaraan bermotor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan pembiayaan termasuk kendaraan bekas serta kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) masih tumbuh positif sepanjang 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengungkapkan, per Februari 2025, pembiayaan kendaraan bekas tumbuh 15,56% secara year on year (yoy) menjadi Rp 117,06 triliun. Sementara, secara keseluruhan pembiayaan kendaraan bermotor tumbuh 7,34% (yoy) menjadi Rp 355,31 triliun.
“Diperkirakan pembiayaan kendaraan bekas masih dapat tumbuh secara positif pada tahun 2025, di tengah dinamika perekonomian akhir-akhir ini,” ujarnya, dalam jawaban tertulis, Kamis (17/4/2025).
Data OJK juga mencerminkan perlambatan pertumbuhan pembiayaan yang disalurkan multifinance, di mana pada November 2024 tumbuh 7,27%, menurun menjadi 6,92% pada Desember 2024, dan kembali turun ke 6,04% pada Januari 2025. Agusman menilai, salah satu penyebab utama perlambatan adalah turunnya penjualan kendaraan di industri otomotif.
Meski begitu, OJK tetap optimistis piutang pembiayaan multifinance secara keseluruhan diproyeksikan tumbuh 8%-10% sepanjang 2025. Proyeksi ini akan terus dievaluasi seiring perkembangan kondisi perekonomian global dan domestik.
“Faktor yang dapat mendukung pembiayaan kendaraan bermotor antara lain peningkatan demand atau permintaan kendaraan bermotor, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi pribadi,” kata Agusman.
Pembiayaan EV berpotensi meningkat
Sementara itu, segmen kendaraan listrik (EV) menunjukkan tren pertumbuhan yang menjanjikan. Data OJK mencatat, penyaluran pembiayaan kendaraan listrik oleh multifinance meningkat 4,06% secara month to month (mtm) menjadi Rp 15,47 triliun pada Februari 2025, dari Rp 15,13 triliun di bulan sebelumnya.“Dengan melihat perkembangan tersebut serta dukungan pemerintah dalam membangun ekosistem kendaraan listrik, pembiayaan kendaraan listrik ke depan masih memiliki potensi yang besar untuk terus ditingkatkan,” ucap Agusman.
“Dan dapat berkontribusi dalam mendorong percepatan terbentuknya ekosistem green financing di Indonesia,” sambung dia.

