Tumbuh 6,2%, Bank Sampoerna Salurkan Kredit Rp 12,1 Triliun di 2024
JAKARTA, investortrust.id - Hingga penghujung 2024, Bank Sampoerna mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 6,2% secara year on year (yoy) menjadi Rp 12,1 triliun.
Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna Henky Suryaputra mengungkapkan, segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terus menjadi bagian terpenting dari pembiayaan yang disalurkan pihaknya.
“Per akhir 2024, sebesar 61,2% pinjaman atau senilai Rp 7,4 triliun secara langsung maupun tidak, diberikan kepada pelaku UMKM dan 38,8% sisanya atau sekitar Rp 4,7 triliun kredit disaluekan kepada nasabah non UMKM,” ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (8/4/2025).
Baca Juga
Catat NPL 4%, Bank Sampoerna Lakukan Ini Agar Kredit Bermasalah Tak Makin Bengkak
Menurut Henky, pertumbuhan kredit UMKM pada 2024 relatif terbatas di angka 3,4%, berbanding terbalik dengan pertumbuhan kredit non UMKM yang tumbuh hampir empat kali lipat lebih tinggi.
“Lebih dari 90% pertumbuhan kredit perbankan di tahun 2024 berasal dari penyaluran kredit ke non UMKM. Pun demikian, Bank Sampoerna tetap berkomitmen terhadap UMKM,” katanya.
Baca Juga
Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan, Bank Sampoerna Gelar Sampoerna Fest 2025
Fungsi intermediasi yang berjalan baik itu, lanjut Henky, dibarengi dengan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Akumulasi DPK di 2024 mencapai Rp 13,3 triliun, naik 4,1% (yoy) dibanding 2023 sebesar Rp 12,8 triliun.
“Kondisi likuiditas per akhir Desember 2024 sebagaimana ditunjukkan dengan rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) berada di tingkat 90,8%. Kondisi ini kami pandang cukup ideal dalam menyeimbangkan likuiditas dan efisiensi,” ucapnya.
Sementara, laba bersih yang berhasil dikantongi Bank Sampoerna mencapai Rp 15 Miliar. Sebagai upaya untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan kualitas yang disalurkan, di tahun lalu Bank Sampoerna secara konservatif membukukan beban penurunan nilai aset keuangan (impairment) senilai Rp 281 miliar atau naik 35%.
“Dengan demikian, rasio kredit bermasalah terhadap keseluruhan pinjaman bruto atau non performing loan (NPL) gross terjaga di angka 3,8%, dengan NPL neto di 2,0%,” ujar Henky.
Sementara itu, CEO Bank Sampoerna Ali Young tak menampik jika 2025 menjadi tahun yang menantang. Di lain sisi, akses terhadap pembiayaan dan layanan keuangan merupakan faktor penting bagi kelangsungan sebuah bisnis.
“Menyadari akan kebutuhan tersebut,kami berkomitmen untuk melayani lebih banyak UMKM dan memastikan UMKM dapat terus bertumbuh. Fundamental yang kuat dengan rasio kecukupan modal Bank Sampoerna sebesar 28,4% merefleksikan kesiapan kami,” katanya.
Di sisi lain, Ali menjelaskan, pembayaran melalui kanal digital, seperti jasa virtual account, pembayaran via QRIS, dan transfer dana melalui kerja sama mitra di Bank Sampoerna juga mencatatkan capaian positif, tercermin dari 24 juta transaksi dengan nominal mendekati Rp 140 triliun. “Total nilai transaksi ini meningkat 35% dibandingkan nilai transaksi yang sama sepanjang tahun 2023,” ujar Ali.

