AFPI Prediksi Pembiayaan Pindar Tumbuh 10% di Momen Lebaran 2025
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memprediksi pembiayaan melalui platform fintech peer to peer (p2p) lending atau pinjaman daring (pindar) akan tumbuh sekitar 10% pada momen Lebaran 2025.
Ketua Bidang Humas AFPI Kuseryansyah mengungkapkan, industri pindar terdiri dari dua klaster utama yaitu produktif dan konsumtif. Peningkatan pembiayaan diprediksi akan terjadi khususnya di segmen konsumtif, seiring dengan lonjakan kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.
”Secara industri juga harusnya naik (pembiayaan), karena pola industri naik. Kami optimistis di bulan ini ada kenaikan, ya mungkin sekitar double digit atau 10% hingga 11%,” ujarnya, menjawab pertanyaan Investortrust, dalam acara Buka Puasa Bersama AFPI dengan Media, di Jakarta, Rabu (26/3/2025).
Baca Juga
Kuseryansyah yang juga menjabat Direktur Utama 360 Kredi ini mencontohkan, fintech pendanaan seperti Amartha yang melayani segmen ibu-ibu misalnya, dengan sistem tanggung renteng mengalami peningkatan permintaan pembiayaan untuk usaha kecil seperti penjualan takjil.
Selain itu, di beberapa platform juga mencatatkan kenaikan sekitar 10%, termasuk 360 Kredi yang mencatatkan pertumbuhan pembiayaan di kisaran 10%-11% dibandingkan periode lebaran tahun sebelumnya.
Meski permintaan pembiayaan meningkat selama periode Ramadan dan Idulfitri, lanjut Kuseryansyah, platform pindar tetap menerapkan seleksi ketat dalam menyetujui pinjaman yang bertujuan untuk mengelola risiko.
“Demand-nya naik lebih tinggi tapi yang kita setujui itu lebih rendah dari demand, karena ada yang kita reject atau tolak. Kalau dari berbagai platform itu isunya banyak, pertama kita juga meng-consider ketersediaan funding. Kedua, terkait manajemen risiko,” katanya.
Baca Juga
AFPI dan OJK Dorong Literasi dan Edukasi Agar Masyarakat Tak Terjebak Pinjol Ilegal
“Kita enggak mau semua demand yang ada pada masa puasa atau Lebaran di-approve semua, kemudian jadi PR (pekerjaan rumah). Jadi PR setelah lebaran itu kalau kualitas kreditnya menurun, konsentrasi untuk bisnisnya kan jadi terganggu,” sambung Kuseryansyah.
Menurutnya, saat ini platform pindar sudah berada di posisi yang matang. Walaupun ada demand yang tinggi, tapi mempunyai spirit untuk memastikan pertumbuhan dengan kualitas yang baik. Hal ini sebagai mitigasi risiko agar kredit macet tidak melambung.
“Kita tetap prinsipnya, sebesar apapun pertumbuhan demand, ujung-ujungnya kita memprosesnya sesuai dengan kapasitas kita. Kebetulan kapasitas kita (industri) secara umum meningkat, dari sisi profitabilitas juga ada peningkatan. Itu berarti secara bisnis tumbuh, dan secara manajemen risiko kreditnya itu juga semakin baik,” ucap Kuseryansyah.

