Adira Finance Catat Piutang Pembiayaan yang Dikelola Capai Rp 56 Triliun di Tahun 2024
JAKARTA, investortrust.id - PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) atau Adira Finance melaporkan bahwa piutang pembiayaan yang dikelola tercatat sebesar Rp 56 triliun di tahun 2024.
Presiden Direktur Adira Finance Dewa Made Susila mengungkapkan, seiring dengan melemahnya daya beli masyarakat serta menurunnya kapasitas pembayaran konsumen, dan dalam upaya menjaga kualitas aset, perusahaan menerapkan strategi yang lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan selama tahun 2024. Sebagai hasilnya, pembiayaan baru Adira Finance pada tahun 2024 tercatat menurun sebesar 12% year on year (yoy) menjadi Rp 36,6 triliun.
Dewa menjelaskan, meski mencatatkan penurunan pada total pembiayaan baru, Adira Finance berhasil mencatatkan pertumbuhan pembiayaan nonotomotif sebesar 10% yoy menjadi Rp 9,8 triliun. Sebagian besar pembiayaan non-otomotif saat ini dikontribusi oleh pembiayaan multiguna melalui produk Solusi Dana.
"Sementara itu, piutang pembiayaan yang dikelola perusahaan (termasuk pembiayaan bersama) relatif stabil sebesar Rp 56,0 triliun," kata Dewa dalam keterangan resminya, Rabu (26/2/2025).
Pembiayaan konvensional masih mendominasi pembiayaan baru dengan kontribusi 75% dari pembiayaan baru, sementara pembiayaan syariah tercatat mewakili 21% dari total pembiayaan baru. Berbagai inisiatif ini terus dilakukan sebagai upaya untuk membangun kesadaran pasar akan produk-produk perusahaan yang berbasiskan syariah.
Di sisi lain, sebagai bagian dari komitmen terhadap transisi energi bersih di Indonesia, Adira Finance juga menyediakan pembiayaan kendaraan listrik (EV), baik roda dua maupun roda empat. Sepanjang tahun 2024, Adira Finance mencatatkan penyaluran pembiayaan baru EV mencapai Rp 379,6 miliar.
Sementara itu, Direktur Keuangan Adira Finance Sylvanus Gani Mendrofa mengatakan, dari sisi keuangan, perusahaan mencatatkan total pendapatan mencapai Rp 10 triliun, naik sebesar 5% jika dibandingkan tahun lalu. Kemudian, total beban meningkat sebesar 17% yoy menjadi Rp 8,2 triliun, terutama disebabkan naiknya biaya pendanaan dan biaya kredit.
"Akibatnya, laba bersih perusahaan setelah pajak terkoreksi menjadi sebesar Rp 1,4 triliun. Dengan demikian, return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) perusahaan masing-masing tercatat menjadi sebesar 5,3% dan 12,7%," ungkap Sylvanus.
Dari sisi pendanaan, perusahaan terus melakukan diversifikasi sumber pendanaan baik melalui dukungan berkelanjutan dari pembiayaan bersama dengan perusahaan induknya, Bank Danamon, dan memperoleh pinjaman eksternal dari bank (baik bank dalam negeri maupun luar negeri) serta pasar modal (obligasi lokal dan sukuk mudharabah). Per posisi Desember 2024, Pembiayaan Bersama mewakili 48% dari piutang yang dikelola.
Lebih lanjut, total pinjaman perusahaan pada Desember 2024 meningkat sebesar 11% yoy menjadi Rp 17,9 triliun, terdiri dari pinjaman bank (dalam negeri dan luar negeri) dan obligasi & sukuk masing-masing berkontribusi 60%:40%. Hasilnya, gearing ratio sebesar 1,7 kali pada Desember 2024.

