Adira Finance Punya Pertahanan Berlapis Lawan Pembiayaan Bermasalah, Apa Saja?
JAKARTA, Investortrust.id – Perusahaan pembiayaan kendaraan bermotor dari kelompok usaha MUFG Group, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), mengeklaim punya cara pengamanan berlapis yang akan menghindari perusahaan dari potensi peningkatan pembiayaan bermasalah di tengah rendahnya daya beli publik.
Disampaikan Dewa Made Susila, Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk di sela gelaran IIMS 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta beberapa waktu lalu, Kamis (13/2/2025), semua industri keuangan dan pembiayaan, termasuk yang berada di bawah naungan MUFG Group harus menavigasi potensi peningkatan non performing loan dan non performing financing di tengah penurunan daya beli.
“Kami menavigasi bisnis lending, itu challenging, karena memang dari sudut konsumennya banyak sekali ya (yang terpengaruh penurunan daya beli). Tapi tidak semua segmen punya potensi kenaikan NPL. Kami melihat segmen kelas atas dan menengah atas itu solid, karena memang ini yang punya tabungan,” kata Made.
Sementara itu, kata Made, segmen masyarakat bawah dengan porsi tabungan yang rendah saat ini yang paling terdampak. Adira Finance pun menyiapkan sejumlah strategi agar terhindar dari pembengkakan porsi pembiayaan bermasalah (NPL/NPF).
Pertama, Adira Finance kini mencoba memperbesar jumlah nasabah yang berasal dari kelompok menengah atas yang masih solid tingkat pendapatannya. Pada kelompok masyarakat ini, Adira pun menawarkan produk pembiayaan KPM Prima dengan bunga dan margin spesial sebesar 1,89% di tengah gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025.
“KPM Prima itu adalah cara kami untuk mendapatkan nasabah yang lebih solid. NPL di KPM Prima itu sangat rendah sekali. Karena memang konsumen Danamon kelas menengah atas,” kata Made.
Baca Juga
Danamon, Adira, dan MUFG Mudahkan Pengunjung IIMS 2025 Beli Kendaraan
Berikutnya, Adira Finance mulai memetakan sejumlah kawasan yang masih mengalami pertumbuhan konsumsi, dengan istilah yang ia sebut sebagai kantung-kantung pertumbuhan. Sejumlah kawasan yang masih dinilais ebagai kantung pertumbuhan di daerah mencakup Sumatera yang menjadi sentra penghasil minyak sawit atau CPO, dan juga Sulawesi yang saat ini menjadi sasaran basis industri down stream atau hilirisasi oleh pemerintah dan pelaku industri.
“Nah, yang ketiga, kami punya buffer, semua pembiayaan yang kami berika itu colateralized, punya jaminan baik berupa mobil, motor. Sehingga itu juga membantu,” ujar Made. Selain itu barang yang dijadikan kolateral adalah kendaraan-kendaraan dengan nilai jual yang tinggi di secondary market.
Berikutnya Adira Finance juga menyiapkan solusi dana buat masyarakat, namun dengan syarat dana tersebut benar-benar digunakan untuk aktivitas yang produktif. “Jadi kami juga melayani nasabah-nasabah yang masih under served di perbankan, tapi kami juga menekankan pada nasabah untuk tidak over consumpting,” tuturnya.
Sebagaimana diberitakan, pada tahun 2024, Adira Finance mencatatkan total pembiayaan baru mencapai Rp 36,6 triliun. Dari jumlah tersebut, 73% berasal dari sektor otomotif, sementara 27% berasal dari segmen non-otomotif. Pembiayaan syariah juga berkontribusi sebesar 21% dari total pembiayaan baru. Dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) yang tetap terjaga di angka 2,2%.

