MUFG Group dan Danamon Optimistis NPL Bank dan Pembiayaan Tetap Baik
JAKARTA, Investortrust.id – Kondisi pelemahan daya beli yang tengah dialami Indonesia, termasuk mengkerutnya jumlah kelas menengah di Tanah Air diproyeksi tak akan menggelembungkan tingkat kredit bermasalah, khususnya bagi MUFG Grup dan Danamon, serta anak suaha lainnya yang bergerak di bidang pembiayaan.
Optimisme ini disampaikan oleh Executive Officer, Country Head Indonesia - MUFG bank Ltd, Kazushige "Kazu" Nakajima ketika menjawab pertanyaan Investortrust.id, dalam kesempatan bincang-bincang dengan media di sela ajang IIMS 2025 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (13/2/2025).
“Jika ada beberapa segmen yang mengalami tekanan terkait potensi tingginya pinjaman bermasalah atau NPL, maka MUFG melayani segmen lainnya yang tidak mendapat tekanan persoalan (daya beli). Konsumen di Sumatera misalnya, atau Sulawesi,” kata Kazu.
Diakuinya, sebagian besar segmen menengah bawah memang mengalami tekanan yang lebih besar ketika terjadi tren penurunan pertumbuhan ekonomi. Namun di saat yang sama, kata Kazu, sejatinya perekonomian Indonesia sendiri tetap bertumbuh.
Baca Juga
Danamon, Adira, dan MUFG Mudahkan Pengunjung IIMS 2025 Beli Kendaraan
“Tingkat inflasi juga tampak stabil belakangan. Jadi kalau lihat segmen konsumer, kami memperkirakan memang masih akan ada tekanan terkait kemampuan daya beli. Tapi di sisi korporasi (MUFG Group), kami secara umum mengalami tren yang baik,” ujar Kazu.
Masih menurut Kazu, sejumlah indikator kesehatan perusahaan termasuk rasio pinjaman bermasalah yang telah dipublikasikan perusahaan pada kuartal III-2024 relatif sangat rendah dibandingkan rerata industri. “Bahkan secara historis mencatatkan level yang rendah. Saya berharap kestabilan perekonomian yang baik di Indonesia akan berlanjut di tahun ini,” imbuhnya.
Sebagaimana diberitakan, tingkat kualitas aset MUFG Bank Cabang Jakarta di kuartal III-2024 terjaga dengan rasio NPL (non performing loan) gross turun dari 0,75% menjadi 0,33% jauh di bawah batas aman 5% yang ditetapkan regulator. Bagi Kazu, ini menunjukkan bahwa kredit yang disalurkan berada dalam pengawasan dan pengelolaan risiko yang ketat, sehingga menghasilkan rasio kredit bermasalah yang sangat rendah.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Bank Danamon Tbk (BDMN) Daisuke Ejima mengatakan, sejatinya rasio utang rumah tangga di Indonesia masih lebih baik, dengan rasio masih di bawah 20% dari PDB. Setidaknya dibandingkan dengan Thailand yang melampaui 80%.
“Artinya begitu muncul trigger yang mampu mengubah tren, saya kira percepatan pemulihan akan jauh lebih tinggi,” kata Ejima.

