Begini Jurus BRI Pertahankan Kinerja Positif di Tengah Berbagai Tantangan 2025
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah tantangan ekonomi global dan domestik yang akan dihadapi pada tahun 2025, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI menyiapkan sejumlah strategi untuk mempertahankan kinerja positifnya ke depan.
Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan, ada berbagai faktor yang berpotensi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di dalam negeri, termasuk kebijakan proteksi perdagangan dari sejumlah negara, serta kebijakan moneter dari The Fed yang cenderung hawkish.
“Pertumbuhan ekonomi global masih diliputi ketidakpastian. Kebijakan proteksi dan tarif yang dikenakan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap China, Meksiko, dan Kanada, serta kebijakan The Fed yang cenderung hawkish akan menjadi tantangan pertumbuhan ekonomi domestik,” ujarnya, dalam konferensi pers Paparan Kinerja Keuangan BRI Kuartal IV 2024, secara daring, Rabu (12/2/2025).
Baca Juga
Sunarso menambahkan, bahwa perang dagang dapat menyebabkan peningkatan barang-barang impor ke Indonesia, yang akhirnya mengganggu industri dalam negeri dan berdampak pada lapangan kerja.
Selain itu, penurunan inflasi yang signifikan pada Januari juag dapat menekan daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga, yang merupakan pendorong utama permintaan kredit, terutama di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Untuk menghadapi sejumlah tantangan tersebut, lanjut Sunarso, BRI menetapkan strategi yang prudent dan hati-hati, dengan menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 7-9%, serta menjaga margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) di angkat 7,3-7,7%.
”Di UMKM, kita masih menghadapi isu-isu yang terkait kualitas kredit. Maka kemudian kita harus jaga-jaga dengan guidance tentang cost of credit sekitar 3-3,2%. Kalau bisa lebih rendah dari itu akan lebih baik,” katanya.
Lalu untuk menjaga kualitas aset, dikatakan Sunarso, BRI menargetkan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tetap di bawah 3%. Sementara itu, efisiensi operasional juga menjadi fokus utama, dengan target cost to income ratio (CIR) di kisaran 42-44% melalui optimalisasi digitalisasi dan peningkatan produktivitas.
Baca Juga
Kredit BRI Tembus Rp 1.354,64 Triliun, 81,97% di Antaranya Disalurkan ke UMKM
“Jadi kita sudah bekerja dengan lebih produktif menggunakan instrumen-instrumen digital dan lain-lain. Operational cost kita tekan, kemudian produktivitas kita naikkan,” ucapnya.
Sekadar informasi, hingga penghujung 2024 BRI mencatatkan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp 60,64 triliun. Sementara itu, total aset BRI mencapai Rp 1.992,98 triliun di tahun lalu, tumbuh 1,42% secara year on year (yoy).
Dari sisi kredit, BRI berhasil menyalurkan kredit Rp 1.354,64 triliun pada 2024, naik 6,97% (yoy). Pertumbuhan ini diikuti dengan perbaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL), dari 2,95% pada 2023 menjadi 2,78% di tahun lalu.
Untuk dana pihak ketiga (DPK), BRI sukses menghimpun Rp 1.365,45 triliun. Dana murah atau current account and saving account (CASA) mendominasi DPK BRI dengan porsi mencapai 67,30% atau setara Rp 918,98 triliun.

