Pembiayaan Hijau BCA Capai Rp 200 Triliunan, Potensinya Kian Menggiurkan
LABUAN BAJO, investortrust.id - Pembiayaan hijau atau green financing memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan, terlebih dengan adanya dukungan dari pemerintah. Menangkap peluang tersebut, sekaligus membantu perekonomian berkelanjutan, EVP Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F Haryn menyatakan, perseroan berkomitmen dalam mendukung pengembangan pembiayaan hijau.
Green financing adalah sebuah konsep keuangan hijau guna menciptakan dan mendistribusikan produk dan layanan keuangan agar bisa menstimulasi investasi yang ramah lingkungan. Secara garis besar, green financing ini bisa diartikan sebagai investasi keuangan yang mengalir ke proyek pembangunan berkelanjutan, berkaitan dengan lingkungan, dan kebijakan pengembangan ekonomi berkelanjutan.
Hera menyebutkan, hingga saat ini, porsi pembiayaan BCA ke sektor yang sejalan dengan aspek pembiayaan hijau telah mencapai 25% dari keseluruhan portofolio kredit yang disalurkan. Di mana, porsinya mencapai sekitar Rp 200 triliun dari outstanding kredit perseroan di kisaran Rp 850 triliun.
“Jadi sekitar Rp 200 triliun itu sudah ke green financing. Dan kita tentu sangat excited, berharap mudah-mudahan green financing juga bisa memiliki pasar yang lebih baik untuk para debitur atau nasabah,” ujarnya di sela-sela program pemberdayaan masyarakat di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (16/10/2024).
Baca Juga
Lanjutkan Jejak Bukti Bakti, BCA Gelar Program Pemberdayaan Masyarakat di Labuan Bajo
Pembiayaan hijau yang telah disalurkan BCA, jelas Hera menyasar ke perusahaan yang menjalankan bisnis terkait pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) seperti tenaga angin dan air, serta geothermal. Emiten bank dengan kode saham BBCA itupun berharap pembiayaan yang diberikannya bisa membuat EBT kian berkembang.
“Karena menurut kami efek ataupun dampak sosialnya itu bergulungnya sangat besar, karena banyak sekali lapangan pekerjaan yang diciptakan disana dan ekonomi juga bisa berputar,” kata Hera.
Selain ke sektor EBT, BCA juga fokus pada pemberian kredit hijau ke sektor kelapa sawit. Namun untuk sektor ini, perseroan menerapkan persyaratan yang ketat, yakni hanya kepada perusahaan yang telah memperoleh sertifikat RSPO dan ISPO.
“Dua syarat tersebut harus dimiliki oleh perusahaan yang mengajukan pembiayaan kepada kami," lanjut Hera.
Sebagai informasi, ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) atau Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia adalah sebuah sistem usaha perkebunan sawit yang layak ekonomi, sosial budaya, dan ramah lingkungan. Sedangkan sertifikat ISPO adalah sertifikasi wajib yang ditetapkan pemerintah kepada industri kelapa sawit Indonesia. Adapun RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) merupakan sebuah badan yang mengatur pemangku kepentingan di sektor industri terkait minyak sawit yang berkelanjutan. Sama seperti ISPO, RSPO juga menetapkan sertifikasi wajib yang berlaku secara internasional.
BCA memberikan alokasi untuk sektor ini karena industri sawit juga menjadi salah satu penggerak perekonomian nasional. Di mana tak hanya sebagai bahan makan, sawit juga menjadi bahan baku untuk biodiesel.
Namun untuk tahun depan, Hera masih enggan menyebutkan berapa target pertumbuhan dari green financing. Secara terpisah, sebelumnya Direktur BCA Vera Eve Lim pernah menyatakan bahwa angka pertumbuhan pembiayaan hijau tumbuh cepat dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan catatan, pembiayaan berkelanjutan BCA mencapai Rp 202,6 triliun sepanjang 2023. Penyaluran kredit berkelanjutan tersebut tumbuh 10,6% year on year (yoy), di atas target pertumbuhan 9%.
“Dalam lima tahun terakhir ini sebenarnya (pertumbuhannya) sudah double dan total sustainable finance itu kan termasuk pinjaman kepada UMKM dan sebagainya Itu hari ini mencapai 25% dari total kredit," katanya dalam talk show Pertumbuhan Berkelanjutan Ala BCA di YouTube Mirae Aset Sekuritas, Kamis (22/2/2024).
Baca Juga
Rilis Fitur Multi Settlement, Pencairan Dana Transaksi QRIS BCA Kini Bisa 4 Kali Sehari
Vera mengatakan, kredit berkelanjutan saat ini mencapai 25% dari total pembiayaan yang disalurkan BCA. Pembiayaan berkelanjutan juga disalurkan pada usaha kecil dan menengah (UMKM). Adapun pembiayaan hijau BCA tidak terfokus dengan energi terbarukan saja, melainkan juga industri-industri yang menerapkan prinsip environmental, social, and governance (ESG).
Terbaru, BCA menjadi bank dengan penyaluran kredit hijau terbesar pada kuartal I 2024. BCA berhasil menyalurkan pembiayaan atau kredit ke sektor-sektor berkelanjutan dengan jumlah mencapai Rp 197,4 triliun. Jumlah kredit hijau tersebut setara 23,5% dari total portofolio pembiayaan. Kredit hijau hingga Maret 2024 itu tercatat tumbuh sebesar 9,1% secara tahunan.
"Dalam rangka terus mendorong penyaluran kredit ke sektor ini, BCA memberikan promo suku bunga kredit bagi debitur komersial dan UKM yang bergerak dalam Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan," kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, belum lama ini.

