OJK Ingatkan Tiga Isu Struktural Perbankan, Apa Saja?
JAKARTA, investortrust.id – Perbankan nasional dihadapkan pada tiga isu struktural yang harus menjadi perhatian para bankir dan pemegang saham.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menguraikan, tiga isu struktural perbankan itu meliputi tuntutan penguatan struktur industri berdaya saing, transformasi digital, dan optimalisasi kontribusi perbankan.
Tentang isu penguatan industri yang berdaya saing, Dian menyebut bahwa aspek-aspek yang harus diperhatikan adalah pemenuhan modal inti minimum (MIM) dan konsolidasi, kesiapan BPR/BPRS untuk melaksanakan penawaran perdana saham (IPO), unit usaha khusus Financial Center Ibu Kota Nusantara (IKN), serta diferensiasi model bisnis/produk perbankan, termasuk syariah.
Sedangkan menyangkut isu transformasi digital, kata Dian, meliputi perkembangan penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), peningkatan cyber crime & digital resilience, koordinasi dan kerja sama keamanan siber, serta pelindungan konsumen di era digital.
Dari sisi optimalisasi kontribusi perbankan, OJK menekannya pentingnya peran keuangan syariah, pemenuhan rasio UMKM (RPIM), masalah keuangan yang berkelanjutan, serta pengembangan financial center IKN.
Selain tiga isu krusial tersebut, Dian Ediana juga mengingatkan sejumlah risiko yang membayangi, baik domestik maupup global. “Di global, Amerika Serikat dan Eropa berpotensi resesi di 2024. Tapi ekonomi global berpeluang rebound ditopang oleh India, China, dan Indonesia.
“Meski tren suku bunga diprediksi turun di 2024, perbankan juga mendapat tekanan, antara lain pertumbuhan kredit melambat, kondisi likuiditas ketat, dan profitabilitas menurun,” kata Dian Ediana dalam focus group discussion di Jakarta, pekan ini.
Perbankan Stabil
Dalam atmosfer global seperti itu, Dian menegaskan bahwa kondisi perbankan Indonesia pada akhir bulan Agustus relatif cukup stabil. Indikatornya tecermin pada risiko kredit, kondisi likuiditas, dan profitabilitas yang cukup terjaga.
Baik dana pihak ketiga (DPK) maupun kredit tumbuh tinggi dibandingkan tahun lalu (year on year/yoy), sementara secara bulanan baik kredit maupun DPK terkontraksi (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya. Secara mtm, pada Agustus-24, kredit terkontraksi Rp 6,91T (-0,09%), sementara DPK juga kontraksi Rp 36,85 T (-0,42%).
Kredit rupiah masih tumbuh Rp 58,74 triliun (0,92%, mtm), sedangkan kredit valas terkontraksi Rp 65,66T (-5,76%, mtm). Adapun DPK terkontraksi (mtm) baik DPK rupiah yang terkontraksi Rp 13,94 triliun atau -0,18%, maupun kredit valas yang terkontraksi Rp 23,46 triliun atau -1,68%.
“Kontraksi pada kredit dan DPK valas utamanya juga dipengaruhi oleh kurs dolar AS yang melemah terhadap rupiah. Di sisi lain, DPK valas menggunakan kurs tetap masih tumbuh meningkat 4,13% secara bulanan,” tutur Dian.
Secara sektoral, menurut Dian, kredit perbankan masih didominasi oleh kredit industri pengolahan atau manufaktur dan perdagangan besar dengan porsi masing-masing sebesar 15,34% dan 15,68% dari seluruh total kredit pada Agustus-24 dan tumbuh masing-masing sebesar 8,15% (yoy) dan 6,95% (yoy). “Hampir seluruh kredit per sektor ekonomi memiliki risiko kredit yang cukup terjaga, yaitu dengan rasio NPL berada di bawah threshold 5%,” kata dia.
Secara umum, likuiditas perbankan saat ini masih tergolong ample meskipun termoderasi, dengan rasio likuiditas yang masih jauh di atas batas (threshold). Loan to cost ratio (LCR) posisi Agustus 2024 sebesar 218,64%. Rasio AL/NCD dan AL/DPK masing-masing sebesar 112,92% dan 25,37%, juga masih di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.
Secara umum, LDR industri perbankan naik, baik secara tahunan maupun bulanan, utamanya didorong oleh kenaikan LDR rupiah. LDR tercatat naik 342 bps (yoy) menjadi 86,80% per Agustus 2024. LDR rupiah meningkat menjadi 88,42%, namun LDR valas justru turun menjadi 78,17%.
Kredit UMKM Melambat
Sementara itu, kredit UMKM masih tumbuh 4,42% (yoy) di Agustus 2024, meskipun melambat dibandingkan tahun sebelumnya (Agustus 2023) yang meningkat 8,9% (yoy). LaR (loan at risk) UMKM masih terus menurun menjadi 13,11% dibanding Agustus 2023 sebesar 16,06%.
“Peningkatan NPL UMKM dan penurunan LaR UMKM telah diprediksi sebelumnya sejalan dengan berakhirnya relaksasi restrukturisasi kredit terkait pandemi Covid-19. LaR UMKM saat ini sebesar juga semakin mendekati level sebelum pandemi,” kata Dian.
Pertumbuhan kredit UMKM yang jauh lebih lambat dari kredit non-UMKM menyebabkan porsi kredit UMKM terhadap total kredit tercatat sebesar 19,64%, naik dari 19,56% pada bulan sebelumnya.
Perkembangan yang cukup positif adalah kredit Paylater di Perbankan yang mencapai Rp 18,38 triliun per Agustus 2024. T dengan pertumbuhan 40,68% (yoy), meningkat 33,66% (yoy).
Saat ini, lanjut Dian, terdapat sekitar 15 bank di Indonesia yang telah menyalurkan kredit dengan skema paylater. Jumlah rekening paylater Perbankan mencapai 18,95 juta rekening, dengan rata-rata baki debet untuk setiap rekening sebesar Rp 970 ribu. “Risiko kredit dari paylater perbankan pada Agustus 2024 masih terjaga dengan rasio NPL sebesar 2,21%,” ungkapnya.
Dian juga menjelaskan perkembangan Bank Pembangunan Daerah (BPD). Sejauh ini sudah ada satu BPD yang efektif membentuk kelompok usaha bersama (KUB) dan satu BPD yang masih dalam proses penegasan KUB dari OJK. “Juga terdapat 4 BPD yang telah mengajukan perizinan untuk melakukan KUB ke OJK. OJK terus mendorong dilakukannya konsolidasi melalui pembentukan KUB BPD dalam rangka penguatan BPD dan pemenuhan ketentuan modal inti minimum,” ucapnya.
Adapun untuk BPR dan BPRS yang masing-masing berjumlah 1.381 dan 173 unit, per Juli 2024 memiliki aset Rp 221 triliun atau tumbuh 6,12% yoy. Penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp 163,33 atau tumbuh 6,52% yoy.
Di industri perbankan syariah, saat ini total aset mencapai Rp 902,39 triliun dengan pangsa pasar 7,33% pada Agustus 2024. DPK tumbuh cukup tinggi sebesar 11,43% yoy mencapai Rp 705,19 triliun, sedangkan pembiayaan tumbuh sebesar 11,65% yoy menjadi Rp 620,33 triliun. Risiko kredit tetap terjaga dengan dengan rasio NPL berada di bawah threshold.
Baca Juga
OJK Sebut Laba Perbankan Capai Rp 171 Triliun di Agustus 2024

