Ini 5 Prinsip Fundamental Bank Mandiri dalam Transformasi Digital
JAKARTA, investortrust.id - Bank Mandiri telah berjalan melakukan transformasi digital seiring dengan perkembangan zaman. Vice President Digital Retail Banking Bank Mandiri, Harry Sofri Putranda menyebutkan, transformasi digital yang dilakukan Bank Mandiri ini dilakukan melalui lima prinsip fundamental.
Disampaikan oleh Harry, prinsip yang pertama adalah peningkatan level kesiapan digital dengan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dari karyawan Bank Mandiri, penguatan performa infrastruktur, dan penggunaan cloud computing models.
“Prinsip kedua yakni memperkuat struktur organisasi, personel dan budaya yang dilakukan dalam dua tahun. Salah satunya dengan membentuk tim khusus digital dan mengadopsi budaya cara berpikir dari industri financial technology,” kata Harry dalam Media Briefing Penguatan BUMN Menuju Indonesia Emas, Kamis (19/9/2024).
Baca Juga
Ada 1 Juta Usaha Pembobolan, Ini Jurus Bank Mandiri Lawan Cyber Attack
Prinsip ketiga adalah Bank Mandiri mengembangkan berbagai kanal distribusi untuk menjangkau berbagai kalangan. Untuk nasabah perorangan melalui Livin by Mandiri, kemudian kanal Kopra by Mandiri untuk korporat, Livin Merchant untuk UMKM, dan Smart Branch untuk pelayanan offline.
Harry melanjutkan, prinsip keempat adalah Bank Mandiri terus memperluas ekosistem digital dengan menggandeng lebih dari 600 rekanan dalam proses pembuatan rekening, transaksi perbankan, dan pinjaman digital.
“Sementara prinsip kelima, Bank Mandiri menggunakan data analytics melalui kemampuan AI, menghasilkan visual analytics dan memperkokoh manajemen data,” beber dia.
Di acara yang sama, Ekonom Senior Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi mengatakan, digitalisasi perbankan telah berdampak pada meningkatnya produktivitas.
Baca Juga
Gelorakan Semangat Berbisnis, Bank Mandiri Gelar Wirausaha Muda Mandiri 2024
Fithra menyebutkan, saat ini kontribusi sektor digital perbankan mencapai Rp 1.000 triliun. Angka itu dinilainya dalam produk domestik bruto (PDB) memang tidak terlalu banyak, namun pada tahun 2030 diharapkan kontribusi terus meningkat mencapai Rp 4.500 triliun.
Fithra mewanti-wanti, yang paling penting saat ini di tengah terus berkembangnya perbankan digital, adalah membuat masyarakat melek literasi keuangan. Efek positif sudah dirasakan dengan membuat layanan perbankan semakin inklusif. Namun di sisi lain, fenomena masyarakat yang terlilit pinjaman online terus meningkat.
"Banyak masyarakat terjerat pinjol. Utang mereka dibayar pakai utang. Habis penghasilan mereka untuk membayar utang. Risiko kurangnya literasi keuangan ini menjadi tanggung jawab semua pihak. Kita harus menciptakan manusia yang paham digital teknologi," ungkap Fithra.

