Buka ‘Representative Office’ di Sydney, BNI Dukung Kolaborasi Indonesia-Australia
SYDNEY, Investortrust.id— Upaya mengakselerasi pembangunan ekonomi di Indonesia membutuhkan dana besar. Dana yang ada di Indonesia saja tidak cukup. Indonesia masih perlu membangun berbagai jenis infrastruktur, dan sejumlah sektor ekonomi lainnya, khususnya industri. Indonesia membutuhkan foreign direct investment (FDI) dalam jumlah besar.
“Kehadiran BNI di luar negeri, bukan saja untuk lending fund (pemberian pinjaman —Red), tapi juga menarik dana para diaspora Indonesia dan mendorong FDI. Pembangunan Indonesia membutuhkan investasi besar dari luar negeri,” kata Dirut PT BNI Tbk Royke Tumilaar dalam wawancara dengan Investortrust.id di Sydney, Kamis (05/09/2024) usai peresmian BNI Sydney Representative Office.
BNI Sydney Representative Office adalah kantor BNI ke-8 di luar negeri dan saat ini baru mendapatkan izin operasi untuk riset. Diharapkan, setahun mendatang, status representative office ditingkatkan menjadi branch atau kantor cabang oleh The Australian Prudential Regulation Authority (APRA), OJK-nya Australia.
“Kalau sudah menjadi kantor cabang, BNI Sydney bisa memberikan pinjaman kepada debitor dan menerima simpanan,” jelas Royke.
Baca Juga
Jalin Kemitraan yang Kuat dengan Australia, BNI (BBNI) Resmikan Kantor Perwakilan di Sydney
Sebagai kantor representasi, BNI Sydney berada di bawah BNI Cabang Singapura. Beroperasi sejak 1955, BNI Cabang Singapura kini menjadi kantor cabang penuh dengan aset US$ 1,88 miliar. Cabang kedua BNI di luar negeri adalah BNI Cabang Tokyo, 1959, dan kini memiliki aset US$ 1,45 miliar.
Pada tahun 1963, BNI hadir di Hongkong dan saat ini aset BNI Cabang Hongkong mencapai US$ 1,12 miliar. BNI juga beroperasi di Inggris sejak 1984 dan BNI Cabang London kini beraset US$ 0,89 miliar. Di Korea Selatan, BNI hadir sejak 2016 dan aset BNI Cabang Seoul saat ini sebesar US$ 0,51 miliar.
BNI juga beroperasi di AS sejak 1978, dan saat ini aset BNI New York Agency tercatat sebesar US$ 1,35 miliar. Pada akhir kuartal II 2024, aset BNI di luar negeri sebesar telah mencapai US$ 6,40 miliar dengan laba sebelum pajak, Juni 2024 yoy, melesat 156%. Selama periode yang sama, pinjaman yang diberikan meningkat 46%.
Dalam lima tahun terakhir, compounded annual growth rate (CAGR) atau tingkat pertumbuhan per tahun kantor BNI di luar negeri mencapai 6%.
Sebagai kota bisnis dan keuangan di Australia, kata Royke, posisi Sydney sangat penting. Banyak diaspora Indonesia yang berdiam di kota ini. Dari kota ini, BNI bisa menjalin kolaborasi dengan para pelaku bisnis, baik para diaspora Indonesia maupun pengusaha Australia yang hendak berinvestasi di Indonesia.
Saat ini, demikian Chief BNI Representative Office di Sydney Rendy Tjahjana, terdapat 86.756 diaspora Indonesia. Jumlah mereka diperkirakan akan terus bertambah mengingat potensi bisnis di Australia yang besar. Para diaspora Indonesia di Australia tidak hanya menjadi pebisnis di bidang perdagangan dan pertambangan, tapi juga properti.
Kehadiran BNI di luar negeri, termasuk di Australia, adalah amanat pemegang saham. Sebagai global Indonesian bank, BNI perlu hadir di negara-negara dengan kegiatan bisnis yang besar. “Dana diaspora Indonesia di luar negeri cukup besar. Kita ingin mereka berkolaborasi dengan UMKM di Indonesia selain memasukkan dana investasi ke Indonesia,” papar Royke, bankir yang pernah mengenyam pendidikan di University of Technology, Sydney.
Potensi Bisnis
GDP Australia US$ 1,693 triliun tahun 2022. Dengan jumlah penduduk yang hanya 26,7 juta, PDB per kapita Australia sebesar US$ 62.261. “Potensi ekonomi Australia sangar besar,” ujar Royke. Selain batu bara dan berbagai jenis mineral, Australia adalah produsen sejumlah produk pertanian dan peternakan. Negeri Kanguru ini mengekspor daging, gula, dan berbagai buah-buahan ke Indonesia.
Pada tahun 2023, demikian Rendy, perdagangan Indonesia-Australia tercatat sebesar US$ 13,3 miliar dan Indonesia mengalami defisit. Ekspor Indonesia hanya US$ 3,2 miliar. “Dari total nilai perdagangan sebesar US$ 13,3 miliar itu, peran BNI baru 1,0%,” ungkap Rendy.
Dalam lima tahun terakhir, 2019-2024, demikian data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi Australia di Indonesia mencapai US$ 1,96 miliar. Selama tahun 2023, Australia berada di peringkat ke-10 penanaman modal asing (PMA) di Indonesia dengan realisasi investasi US$ 0,5 miliar. Pada triwulan I tahun 2024, Australia masih bertengger di peringkat ke-10 dengan realisasi investasi sebesar US$ 172,3 juta. Tiga sektor utama penyumbang realisasi investasi terbesar asal Australia yaitu pertambangan (65,4%), hotel, dan restoran.
Ke depan, kedua negara diharapkan terus melanjutkan kerja sama untuk menciptakan produk industri terkait dengan pengolahan mineral kritis. Dengan kolaborasi tersebut diharapkan nantinya akan tercipta rantai pasok global yang kuat di bidang pengolahan mineral kritis.
Disampaikan Pahala, kedua negara akan saling bertukar penyediaan sumber daya mineral kritis yang akan mampu mendorong terbentuknya ekosistem industri, salah satunya baterai kendaraan lilstrik. Seperti diketahui Indonesia menjadi negara dengan sumber cadangan terbesar untuk nikel yang amat dibutuhkan sebagai bahan baku baterai. Indonesia juga memiliki cadangan kobalt dan mangan yang tak banyak tersedia di Australia. Sebaliknya, Indonesia tidak memiliki cadangan litium yang besar seperti Australia.
Baca Juga
Perkuat Kerja Sama dengan Australia, Wamenlu RI Dorong Pengolahan Mineral Kritis
"Beberapa jenis mineral tertentu, seperti litium (dari Australia) dan nikel dari Indonesia diharapkan bisa dikembangkan, agar Indonesia dan Australia bisa memproduksi barang di bidang pengolahan mineral kritis, sehingga bisa memproduksi baterai bagi ekosistem manapun," kata Pahala.
Ia pun menyampaikan bahwa dirinya bertemu Wakil Menteri Perdagangan Australia untuk mendiskusikan bentuk kerja sama tersebut. Ia optimistis dengan potensi yang ada saat ini, Indonesia akan menjadi mitra bagi Australia untuk pengembangan ekosistem industri berbasis mineral kritis. Terlebih Indonesia dan Australia sudah memiliki kerja sama dalam bentuk comprehensive strategic partnership (CSP).
Kerja sama yang dibangun meliputi beberapa bidang ekonomi dan pembangunan, hubungan masyarakat, pertahanan dan keamanan, kerja sama maritim, dan kerja sama regional.
Australia pun, lanjut Pahala, ingin menjadi pemain aktif terkait mineral kritis ini. "Australia ingin menjadi salah satu pemain yang berperan aktif dalam industri pengolahan mineral kritis, terkait transisi energi, termasuk baterai, solar photovoltaic cells (PV) atau panel surya, dan lain sebagainya," ungkap dia.
"Jadi kita berharap kalau tadinya sebelumnya kita memiliki ranking nomor 12 sebagai trade partner Australia, Australia menjadi trade partner nomor 8 buat Indonesia, kita berharap ke depannya (kerja sama ini akan) meningkatkan pertumbuhan dari sisi perdagangan lebih tinggi daripada yang kita lihat pada saat ini," ujar Pahala.

