Survei Citi: Kebutuhan Uang Digital, Termasuk Deposito Berbentuk Token Terus Meningkat
JAKARTA, investortrust.id - Menurut survei terbaru Whitepaper Citi Securities Services, seiring dengan komersialisasi teknologi buku besar terdistribusi (distributed ledger technology/DLT) dan aset digital yang terus berlanjut, penggunaan uang digital di luar mata uang digital dari bank sentral atau central bank digital currencies (CBDC) diperkirakan akan meningkat secara signifikan.
Dalam survei tersebut 65% responden berencana untuk menggunakan opsi non CBDC seperti stablecoin, deposit tokenisasi, reksadana pasar uang, dan sistem pembayaran digital untuk mendukung kebutuhan kas dan likuiditas dalam penyelesaian sekuritas digital di 2026 mendatang.
Sementara, hanya 15% yang berencana menggunakan CBDC. Hasil ini berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya, di mana CBDC menjadi jenis mata uang digital yang lebih diminati, yaitu sebesar 52%.
Head of Securities Services Citi Okan Pekin mengungkapkan, survei terbarunya ini berfokus pada batas baru di industri ini, yaitu penerapan teknologi yang semakin berkembang, termasuk buku besar terdistribusi (DLT) dan aset digital, serta potensi signifikan tokenisasi untuk ditingkatkan.
“Perkembangan ini akan terus merubah lanskap sekuritas seiring kita terus bergerak menuju siklus penyelesaian yang lebih pendek di berbagai pasar di seluruh dunia,” ujar dia, dalam keterangannya, Kamis (5/9/2024).
Baca Juga
Ekonom Citi Indonesia Ramal BI Rate Turun 25 Bps pada September 2024
Survei tersebut menyasar 500 responden pasar yang mencakup lembaga dari sisi jual dan beli, yang bertujuan memberikan wawasan terkini tentang industri. Selain itu, whitepaper ini juga menggabungkan wawasan kualitatif dari 14 financial market infrastructures (FMIs) serta mencakup pandangan regional yang mendalam tentang industri di seluruh Asia Pasifik, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Latin.
Temuan dalam survei tersebut juga meliputi, pertama, adopsi digital terjadi memiliki waktu adopsi yang berbeda-beda. Di Asia Pasifik dan Eropa mendorong komersialisasi DLT dan aset digital dengan masing-masing 48% dan 46% responden secara aktif mengejar inisiatif tersebut.
Baca Juga
Citi Indonesia Raih Laba Rp 1,3 Triliun, Naik 14% pada Triwulan II 2024
Lalu, tokenisasi akan semakin diminati ketika penerbitan sekuritas digital asli membutuhkan waktu yang lebih lama. 62% responden dari sisi jual memfokuskan upaya DLT dan aset digital mereka pada tokenisasi berbagai kelas aset termasuk aset publik dan private, dibandingkan dengan 8% untuk penerbitan sekuritas digital asli.
Selanjutnya, jaringan private lebih disukai. 64% responden dari sisi jual berharap untuk menggunakan jaringan private (yang dikelola bank, perusahaan teknologi, dan FMI) karena tokenisasi aset mendapatkan momentum. Namun dari sisi beli, manajer aset berfokus pada blockchain publik untuk tokenisasi dana dan peluang distribusi.
Sementara itu, Head of Custody Securities Services Citi Amit Agarwal mengatakan, konvergensi aset tradisional dan digital serta model operasi yang semakin cepat dapat memperkuat kebutuhan akan platform modern, data yang andal, dan informasi secara langsung.
“Kami berharap dapat melihat investasi berkelanjutan dalam otomatisasi, infrastruktur cloud, dan API serta solusi yang terintegrasi dengan DLT,” katanya.
Menanggapi tren ini, lanjut Amit, Citi terus berinovasi dan memanfaatkan penawaran produk terintegrasi untuk melayani klien dalam ekosistem yang semakin dinamis saat ini.

