Begini Jurus BSI Dorong Pertumbuhan Pembiayaan di Tengah Kondisi Ekonomi yang Menantang
JAKARTA, investortrust.id - Saat ini kondisi makro ekonomi dihadapkan pada situasi menantang, mulai dari era suku bunga tinggi hingga ketegangan geopolitik global. Dalam menghadapi tantangan tersebut, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI memiliki sejumlah strategi dalam mendorong pertumbuhan pembiayaan.
Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengungkapkan, salah satu hal yang dilakukan pihaknya adalah fokus terhadap segmen bisnis yang profitable, misalnya menggarap segmen konsumer, ritel, serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Segmen konsumer dalam hal ini adalah BSI Griya dan BSI Mitraguna, kemudian ritel dan UMKM yakni produk gadai dan emas, ini adalah segmen profitable yang memberikan profitability yang bagus buat BSI,” ujarnya, dalam konferensi pers paparan kinerja BSI kuartal II 2024, secara virtual, Senin (2/9/2024).
Segmen-segmen tersebut, lanjut Hery, memiliki kualitas yang sangat baik dan aman, alhasil produk-produk tersebut menjadi unggulan dari BSI. Lalu untuk segmen wholesale banking, BSI memilih sektor-sektor yang tumbuh dan memiliki ekosistem bisnis yang dapat dikembangkan.
Baca Juga
Pembiayaan dan DPK Tumbuh, Laba BSI Naik 20,28% Jadi Rp 3,4 Triliun di Semester I 2024
“Serta terus berkoordinasi dengan holding kita, pemegang saham kita dalam konsolidasi eksposur yang kita miliki agar tidak over capacity atau over limit,” katanya.
Selain itu, dari sisi risk management BSI mengklaim telah memiliki portfolio guideline dan juga risk acceptance criteria (RAC) yang telah ditetapkan. Kedua hal ini juga telah melalui suatu diskusi yang baik antara tim resiko dan tim ekonomi BSI agar pembiayaan yang disalurkan dapat diarahkan kepada segmen-segmen yang tepat.
“Semua kita jaga agar prudent dan diharapkan inline dengan good corporate governance (GCG),” ucap Hery.
Baca Juga
Dikatakan dia, perusahaan juga menjaga tingkat persaingan pada level yang sehat, dengan memberikan pricing yang kompetitif. Hal ini tercermin dalam upayanya menumbuhkan dana murah yang cukup baik dan berada di jajaran lima teratas bank dengan volume tabungan terbesar secara nasional.
“Pricing ini tentunya didorong oleh kemampuan kita untuk punya funding murah tadi sehingga kita bisa memberi harga atau pricing pembiayaan yang kompetitif. Kita memang harus lakukan terus dimana mendorong dana murah itu cukup tumbuh dengan baik,” ujar Hery.
Sekadar informasi, hingga semester I 2024, pembiayaan BSI tumbuh 15,99% secara tahunan menjadi Rp 257,39 triliun. Selain itu, perusahaan juga berhasil juga berhasil mencatatkan kenaikan DPK sebesar 17,50% secara tahunan menjadi Rp 296,70 triliun.

