Ekspektasi Pengurangan Produksi Sukarela OPEC+ Topang Kenaikan Harga Minyak
Harga minyak mengalami kenaikan pada Senin (27/5/2024) pagi ini ke level US$ 77,81 per barel di tengah serangan udara Israel di Rafah menimbulkan ketegangan geopolitik, serta pasar menantikan pertemuan OPEC+.
Militer Israel mengatakan angkatan udaranya menyerang kompleks Hamas dan serangan itu dilakukan dengan amunisi yang tepat dan berdasarkan intelijen yang tepat. Serangan tersebut terjadi di lingkungan Tel Al-Sultan di Rafah barat, tempat ribuan orang berlindung setelah banyak yang meninggalkan wilayah timur kota tersebut, pejabat layanan kesehatan dan darurat sipil Palestina mengatakan serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 35 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya.
Di sisi lain, pasar menunggu pertemuan OPEC+ pada 2 Juni, dimana produsen diperkirakan membahas mempertahankan pengurangan produksi sukarela untuk sisa tahun ini. Tiga sumber dari negara-negara OPEC+ mengatakan para produsen akan mendiskusikan apakah akan memperpanjang pengurangan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari hingga paruh kedua tahun ini, perpanjangan mungkin terjadi.
Baca Juga
Dipicu Rencana Perilisan Stok Bensin AS, Harga Minyak Bergerak Bearish
Dikombinasikan dengan pengurangan produksi sebesar 3,66 juta barel per hari yang berlaku hingga akhir tahun, pengurangan produksi tersebut setara dengan hampir 6% dari permintaan minyak global.
Dalam berita yang beredar, presiden sementara Iran Mohammad Mokhber telah menyetujui rencana untuk meningkatkan produksi minyak negara tersebut dari 3,6 juta barel per hari (bph) menjadi 4 juta bph. Selain itu, Arab Saudi sedang mempersiapkan penjualan saham bernilai miliaran dolar di perusahaan energi raksasa Aramco, yang bertujuan untuk mengumpulkan dana sekitar US$ 10 miliar pada awal Juni.
Baca Juga
Presiden Iran Meninggal, Apakah Harga Minyak bakal Membengkak?
"Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 83,50 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 76,50 per barel," tulis riset ICDX, Senin (27/5/2024).

