Penurunan Inflasi AS Masih Beri Angin Segar Bagi Pasar Kripto
CEO Indodax Oscar Darmawan mengatakan, penurunan inflasi Amerika Serikat (AS) memberikan angin segar bagi pasar kripto, terutama Bitcoin (BTC).
Data dari Trading Economics dan US Bureau of Labor Statistics menunjukkan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) lebih rendah dari perkiraan, yaitu sebesar 3,4 persen, yang menandakan penurunan tekanan inflasi.
Hal ini mempengaruhi harga BTC yang berhasil stabil di atas angka US$ 65 ribu dan sempat menyentuh US$ 66 ribu setelah mengalami volatilitas sepanjang pekan ini. Per Sabtu (18/5/2024), BTC menyentuh harga US$ 66.967.
Mengutip Coinmarketcap, Minggu (19/5/2024) pukul 09.12 WIB harga Bitcoin stagnan dari posisi kemarin yang berada di US$ 66.970,92. Namun masih menguat 10,08% dalam sepekan. Di mana kapitalisasi BTC senilai US$ 1,31 triliun.
Baca Juga
Ini Proyeksi Bos CryptoQuant soal Siklus Bullish Bitcoin. Berakhir April 2025?
“Ini memperkuat kepercayaan investor terhadap potensi Bitcoin sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan aset yang mampu menawarkan return lebih tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global,” ungkapnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (19/5/2024) dikutip dari Antara.
Kenaikan harga BTC juga didukung peningkatan aktivitas perdagangan di kalangan investor ritel dan institusi. Menurut dia, peningkatan funding rates menunjukkan adanya kenaikan pembelian dengan leverage di banyak bursa ritel. Momentum seperti ini disebut sangat dinantikan oleh para investor setiap bulan.
“Penentuan penurunan atau kenaikan inflasi di Amerika Serikat memiliki dampak signifikan terhadap suku bunga secara global. Dalam konteks ini, investor akan menjadikan tingkat inflasi AS sebagai salah satu acuan utama dalam menentukan instrumen investasi yang paling tepat untuk dipilih,” ujar dia.

