UOB Indonesia Bidik Pengguna UOB Lady's Card Tumbuh 15%
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank UOB Indonesia menargetkan pengguna UOB Lady’s Card atau kartu kredit pertama di Asia Tenggara yang berfokus pada kaum perempuan ini dapat tumbuh sekitar 15% setiap tahunnya.
Saat ini, pengguna UOB Lady’s Card telah mencapai 70.000 nasabah.
"Dengan berbagai benefit yang sangat super, kami yakin growth-nya juga sangat strong. Minimum kami expect sekitar 15% per tahun untuk bisa growth," ujar Cards & Payment Head UOB Indonesia, Herman Soesetyo dalam acara Press Conference Relaunching Kartu Kredit UOB Lady's di Pacific Place Mall, Jakarta, Jumat (17/5/2024).
Lebih lanjut, Herman menyebut, dengan target 15% per tahun pada pengguna UOB Lady's Card, UOB Indonesia juga menargetkan pertumbuhan transaksi yang diharapkan ikut bertumbuh dengan angka yang sama, bahkan bisa melebihi 15%.
“Dari jumlah kartu kurang lebih (tumbuh) 15%. Tapi biasanya nggak jauh-jauh, kalau 15% pertumbuhan kartunya transaksinya juga biasanya 15%,” ungkapnya.
Menurut Herman, target tersebut sejalan dengan rencana UOB Indonesia yang telah disetujui oleh regulator. Dengan demikian, UOB Indonesia optimistis target pertumbuhan pengguna dan transaksi akan tercapai, didukung sinergi antarpihak yang terjaga dengan baik.
“Jadi pastinya UOB, kita akan expect pertumbuhan lebih cepat lagi,” katanya.
Sementara itu, Consumer Banking Director UOB Indonesia Cristina Teh Tan mengatakan, sepanjang tahun 2019 hingga 2023, basis pemegang UOB Lady’s Card naik sebesar 95%.
"Hal ini membuktikan relevansi jangka panjang dari penawaran yang kami berikan terhadap beragam kebutuhan gaya hidup kaum perempuan. Pada saat kami merayakan 35 tahun sejak diperkenalkannya UOB Lady’s Card di Singapura, kami menegaskan kembali komitmen untuk memperjuangkan kemajuan dan kesuksesan kaum perempuan di mana pun mereka berada, seiring dengan upaya menjadi ‘Unstoppable Together’," jelas Cristina.
Sebagai informasi, berdasarkan data pembelanjaan UOB Lady’s Card dari tahun 2020 hingga 2023, UOB Indonesia mencatat kenaikan sebesar 100% dalam transaksi untuk kuliner, sementara transaksi belanja telah kembali ke tingkat sebelum masa pandemi.

