BSI Beberkan Kendala Utama yang Dihadapi Perbankan Syariah
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) alias BSI membeberkan kendala utama yang dihadapi perbankan syariah. Salah satunya adalah masih rendahnya tingkat literasi keuangan syariah di masyarakat.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Indonesia (SNLIK) yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2022, terjadi selisih (gap) yang cukup besar antara literasi keuangan syariah dan keuangan secara keseluruhan. Tingkat literasi keuangan keseluruhan mencapai 49,68%, sedangkan literasi keuangan syariah baru 9,14%.
Baca Juga
"Tingkat literasi masih perlu kita tingkatkan lagi. Jadi, belum semua orang tahu apa bedanya antara bank syariah dan bank konvensional. Lantas mengapa, pentingnya apa sih?!” ujar Strategic Plan & Performance Management Group Head BSI, Diaz Hartadi di kantor Investortrust, The Convergence Indonesia, Jakarta, Senin (29/4/2024).
Berkenaan dengan hal tersebut, menurut Diaz, BSI bersama otoritas dan pihak terkait lain terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar literasi perbankan syariah meningkat.
Kendala lain yang dihadapi perbankan syariah, kata Diaz Hartadi, sebagian besar bank syariah masih berada pada Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1.
Baca Juga
BSI Sebut Kehadiran Bank Syariah Hasil Akuisisi Akan Jadi ‘Sparing Partner’
"Jadi tentu yang masuk ke KBMI 3 hanya BSI, KBMI 2 hanya BTPN Syariah,” tutur dia.
Diaz mengakui, tantangan di perbankan syariah adalah skala atau ukuran (size). “Dengan size kecil, meningkatkan literasi juga akan sulit. Itulah salah satu alasan pemerintah pada 2021 memerger tiga bank syariah paling besar untuk mendorong pertumbuhan bisnis syariah," papar dia.

