ESDM Nilai Pasar Nikel Belum Stabil, Apa Penyebabnya?
JAKARTA, investortrust.id - Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM, Agus Tjahajana Wirakusumah menilai, saat ini pasar komoditas nikel masih belum stabil.
Sebagaimana diketahui, nikel menjadi salah satu komoditas yang banyak dibutuhkan saat ini karena merupakan komponen penting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik (EV). Indonesia sebagai salah satu negara penghasil nikel terbesar tentunya sangat diuntungkan dengan hal ini.
Kendati demikian, Agus menyebut bahwa pabrik nikel Indonesia masih terbilang sedikit. Sebab dahulu nikel bukanlah komoditas yang menjadi buruan utama di pasar.
“Oleh karena itu, pabrik nikel kita dari dulu sedikit. Nah begitu ada baterai (untuk EV), keluar pakai nikel, melonjak-lonjak. Nah ini menurut saya pasar belum stabil,” ujar Agus Tjahajana saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (26/4/2024).
Baca Juga
Konflik Iran-Israel, Bagaimana Proyeksi Harga Nikel Bulan Mei 2024?
Meski saat ini nikel menjadi komoditas penting dalam industri kendaraan listrik, Agus memandang bahwa bukan berarti Indonesia akan bisa meraih untung besar dengan mudah. Sebab, ada juga pihak lain yang mengkampanyekan tidak akan menggunakan nikel dalam pembuatan baterai.
“Ada yang bilang baterainya tak mau pakai nikel. Itu gimmick itu. Sekarang kalau mau keluar jenis teknologi baterai baru, mari kita lihat ada berapa ketersediaan (bahannya) di muka bumi ini?. Jadi kita harus paham ada gimmick marketing,” sebut Agus.
Lebih lanjut Agus menyampaikan, kalaupun pada akhirnya baterai berbasis nikel tergantikan oleh baterai jenis lain, bukan berarti industri nikel bakal mati. Menurutnya, akan tetap ada pihak yang menggunakan nikel sebagai komponen pembuat baterai. Selain itu, nikel juga bisa dimanfaatkan untuk membuat produk lain.
“Jadi memang kalau ditanya nikel, kalau kemudian baterai jenis ini tergantikan oleh baterai jenis lain, dia akan tetap eksis. Tetapi pasarnya adalah pasar yang tradisional,” tuturnya.
Baca Juga
Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah berupaya menggenjot hilirisasi mineral seperti nikel untuk meningkatkan nilai jual. Adapun salah satu yang disasar adalah pembuatan baterai NMC yang merupakan kombinasi nikel, mangan, dan kobalt untuk kendaraan listrik.
Kendati begitu, baterai jenis NMC tersebut mendapat persaingan dari baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP). Hal ini membuat sejumlah pihak khawatir kalau hilirisasi nikel tak berjalan mulus.

