JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami kesulitan untuk menembus level resistensi US$ 59.500 dan US$ 60.000. BTC mencapai puncaknya di dekat zona resistensi US$ 59.500 saat hasil positif inflasi AS dirilis pada Kamis (11/7/2024) malam.
Inflasi Amerika Serikat (AS) turun menjadi 3% pada Juni 2024, lebih rendah dari yang diharapkan. Penurunan ini signifikan dari angka 3,3% pada Mei 2024 dan merupakan faktor penting dalam pengambilan keputusan The Fed terkait pemotongan suku bunga tahun ini.
Sehubungan dengan hal tersebut, Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengungkapkan, berita ini seharusnya menjadi angin segar bagi pasar kripto, terutama Bitcoin, karena The Fed telah menyatakan bahwa mereka menunggu bukti lebih lanjut bahwa inflasi turun ke 2% sebelum menerapkan pemangkasan.
"Data FedWatch CME menunjukkan peluang sebesar 75% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuannya di bulan September," ujar Fyqieh dalam risetnya, Jumat (12/7/2024).
Lebih lanjut, Fyqieh menyebut, pandangan tersebut sempat membuat harga Bitcoin melonjak hingga hampir US$ 60.000 di
tengah meningkatnya volatilitas. Namun, sentimen negatif dan aksi taking profit membuat BTC kembali terjebak di zona bearish, turun ke harga sekitar US$ 57.000.
Fyqieh menjelaskan, meskipun angka inflasi AS yang positif, pasar kripto tetap berat dalam jangka waktu lama. Harga Bitcoin naik kemudian turun US$ 1.000 dalam waktu satu jam. Secara keseluruhan, kata Fyqieh, investor dan trader tetap berhati-hati karena pasar mengantisipasi dimulainya distribusi BTC milik kreditor bursa Mt. Gox yang sudah tutup. Selain itu, pemerintah Jerman terus menjual hampir 50.000 Bitcoin yang disita pada tahun 2013.
"Saat ini, Jerman memiliki Bitcoin senilai kurang dari US$ 285 juta yang tersisa untuk dijual, yang menyebabkan ketidakstabilan pasar yang mungkin akan berlangsung untuk beberapa waktu ke depan," ungkap Fyqieh.
Di sisi lain, Fyqieh mengatakan, pasar ETF BTC spot AS memperpanjang arus masuk bersihnya sebesar US$ 46,7 juta pada Kamis (11/7/2024), menambah total arus masuk bersih sebesar US$ 216,4 juta yang tercatat pada Rabu (10/7/2024). Meskipun Grayscale Bitcoin Trust (GBTC) mengalami arus keluar bersih sebesar US$ 8,2 juta, ETF lainnya mencatatkan arus masuk signifikan.
Menurut Fyqieh, meskipun beberapa indikator teknis dan analisis fundamental menunjukkan potensi pergerakan bullish di kuartal mendatang, situasi ini mengindikasikan bahwa banyak investor masih ragu-ragu dan cenderung menjual aset mereka untuk menghindari kerugian lebih lanjut.
Namun, bagi sebagian analis dan trader berpengalaman, momen ini dianggap sebagai peluang untuk membeli aset dengan harga lebih rendah sebelum kemungkinan lonjakan harga di masa depan.
Saat ini, BTC berada di bawah Exponential Moving Average (EMA) 50-day dan 200-day, mengirimkan sinyal harga bearish kepada para investor. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual yang signifikan dan potensi penurunan harga lebih lanjut jika BTC tidak mampu menembus level-level resistensi kunci.
Jika BTC berhasil menembus EMA 200-day, hal ini akan memberikan dukungan kuat untuk pergerakan menuju level resistensi US$ 60.365. Penembusan di atas level ini dapat membuka peluang bagi para investor untuk mencapai EMA 50-day, yang akan menjadi indikator bullish kuat lainnya.
Dalam skenario ini, harga Bitcoin bisa mendapatkan momentum untuk naik lebih tinggi, memberikan sinyal positif kepada pasar. Namun, jika Bitcoin gagal menembus zona resistensi US$ 58.000, harga dapat terus bergerak turun.
"Dukungan langsung pada sisi negatifnya berada di dekat level US$ 56.600. Penurunan di bawah US$ 55.000 dapat menyebabkan tekanan jual lebih lanjut, membawa harga menuju level dukungan US$ 52.884," jelas Fyqieh.
Secara terpisah, Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha mengatakan, seminggu terakhir pasar kripto mengalami masa-masa penuh gejolak di tengah penjualan BTC oleh pemerintah Jerman. Selain itu kekhawatiran tentang distribusi pengembalian ke kreditur Mt. Gox, bursa mata uang kripto yang berbasis di Tokyo yang sudah tidak beroperasi lagi juga menimbulkan kekhawatiran di pasar kripto saat ini.
Namun, Panji bilang, prospek bullish belum berakhir didukung oleh faktor makroekonomi. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, mengatakan pada Selasa (9/7) mempertahankan suku bunga tinggi terlalu lama dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi. “Ini tampaknya mengisyaratkan bank sentral sedang mempertimbangkan pelonggaran kebijakan,” ujar dia.
Dari sisi analisa teknikal, Jika BTC bertahan di atas US$ 57.000, ada peluang menguji resistance US$ 60.000. Jika turun di bawah US$ 57.000, BTC berpotensi kembali melemah ke US$ 54.000-55.000.