Sektor Keuangan Paling Rentan Kejahatan Berbasis AI
JAKARTA, investortrust.id - Sektor keuangan di Tanah Air tercatat menjadi industri yang paling rentan terhadap ancaman kejahatan siber berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menurut pengamat keamanan siber sekaligus Chairman lembaga riset siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha, sektor keuangan, khususnya perbankan sangat rentan terhadap penipuan yang memanfaatkan kecerdasan buatan.
Pelaku kejahatan siber memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memuluskan aksi penipuannya. Karena teknologi tersebut memiliki kemampuan untuk memproses dan menganalisis data dalam skala besar dengan cepat, serta membuat keputusan berdasarkan pola dan prediksi yang kompleks.
"Penjahat dapat mencoba memanipulasi algoritma AI yang digunakan untuk analisis risiko, pengambilan keputusan kredit, dan deteksi fraud untuk mendapatkan akses tidak sah ke akun atau memanipulasi pasar keuangan," katanya ketika dihubungi oleh Investortrust pada Rabu (24/4/2024).
Selanjutnya, menurut Pratama asuransi juga sering menjadi target penipuan yang melibatkan kecerdasan buatan. Penipuan tersebut tentu saja tidak hanya merugikan nasabah, tetapi juga perusahaan asuransi lewat sejumlah tindakan seperti klaim palsu, manipulasi data risiko, atau penipuan premi.
"Penyalahgunaan AI dalam proses klaim dan penetapan harga dapat merugikan perusahaan asuransi dengan membayar klaim yang tidak sah. Penyalahgunaan AI dalam perdagangan saham dan keuangan dapat mencakup manipulasi pasar, penyebaran rumor palsu, atau penipuan pembelian dan penjualan aset," tutur Pratama.
Selain itu, pelaku kejahatan siber juga dapat memanipulasi algoritma perdagangan otomatis berbasis kecerdasan buatan. Tujuannya adalah mendapatkan keuntungan secara tidak sah yang nilainya tentu jauh lebih besar dari seharusnya.
Baca Juga
OJK Beberkan Update Kasus Kredit Macet dan Fraud Pinjol Investree
Tidak Hanya Sektor Keuangan
Beralih ke sektor lainnya, yakni telekomunikasi dan kesehatan, Pratama menyebut kecerdasan buatan kerap dimanfaatkan untuk aksi penipuan. Di sektor telekomunikasi, penipuan dapat terjadi melalui peneleponan spam otomatis, penipuan identitas, atau penyalahgunaan layanan dan produk telekomunikasi.
"Di industri kesehatan, penipuan dapat terjadi melalui pemalsuan data medis, resep obat palsu, atau manipulasi sistem pembayaran. Penyalahgunaan AI dalam diagnosis medis juga dapat mengarah pada kesalahan diagnosis atau perawatan yang tidak diperlukan," paparnya.
Seiring dengan pertumbuhan penggunaan platform dagang elektronik (e-commerce), penipuan daring yang memanfaatkan kecerdasan buatan juga makin meningkat. Penyalahgunaan kecerdasan buatan dalam platform tersebut dapat mencakup pembuatan akun palsu, manipulasi ulasan produk, atau penipuan pembayaran yang menggunakan algoritma untuk menghindari deteksi.
"Industri travel dan pariwisata juga rentan terhadap penipuan yang melibatkan reservasi palsu, pembayaran palsu, atau penipuan pemesanan online. AI digunakan untuk personalisasi pengalaman pelanggan, namun juga bisa dimanfaatkan untuk penipuan," ungkapnya
Oleh karena itu, Pratama berharap pemerintah dapat mengimplementasikan regulasi yang tidak hanya mengawasi, tetapi juga melakukan audit terhadap sistem berbasis kecerdasan buatan. Audit tersebut harus dilakukan secara independen, khususnya di sektor-sektor rentan.
"Pengawasan dan audit yang ketat terhadap sistem AI yang digunakan dalam sektor-sektor rentan sehingga audit independen dapat membantu mendeteksi penyalahgunaan atau manipulasi," tegasnya.

