Ini Strategi BRI Antisipasi Kondisi Perekonomian Tahun Ini
JAKARTA, investortrust.id - Kondisi ekonomi global masih diselimuti ketidakpastian. Beberapa faktor mempengaruhi hal tersebut, di antaranya era suku bunga tinggi, resesi Jepang, dan konflik geopolitik. Secara langsung maupun tidak, kondisi tersebut memengaruhi industri perbankan nasional. Untuk menghadapi situasi tersebut, Bank Rakyat Indonesia (BRI) memiliki sejumlah strategic responses.
Direktur Utama BRI, Sunarso mengatakan, pihaknya telah melakukan simulasi untuk merespon kondisi tersebut. Misalnya, terkait potensi pertumbuhan rendah, moderat dan tinggi. Begitupula dalam hal risiko yang memiliki tiga tingkatan yang sama. Ia menyebut pada kuartal satu hingga kuartal dua 2024, kondisi ekonomi nasional diperkirakan akan berada di kuadran yang menggambarkan potensi pertumbuhan yang moderat namun risiko masih tinggi.
“Maka strateginya ekspansi kredit moderat saja, dan loan portfolio guideline (LPG) kita buat ketat. Ini bagian daripada risk management,” ujarnya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rabu (20/3/2024).
Baca Juga
BRI Peduli Salurkan Bantuan bagi Masyarakat Terdampak Bencana di Sumbar dan Jabar
Selain itu, lanjut Sunarso, BRI juga akan melakukan monitoring rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) secara cepat, simulasi stress test secara continue, dan menjaga high coverage ratio sebagai ukuran yang menggambarkan kemampuan suatu bank untuk menutupi atau membayar kewajiban tertentu dengan menggunakan sumber daya yang tersedia.
“Jadi kita usahakan coverage-nya terhadap NPL dan LAR (loan at risk) itu dijaga dengan cadangan di level yang tinggi. Dan mencari dana dengan tenor yang panjang, karena suku bunga tinggi,” katanya.
Kemudian, memasuki kuartal ketiga dan keempat tahun ini, ia memprediksi kondisi ekonomi nasional akan berada di kuadran lima yang menggambarkan kondisi perekonomian dan risikonya tergolong moderat.
Merespons proyeksi tersebut, BRI akan melakukan sejumlah hal seperti melakukan ekspansi kredit secara moderat, melonggarkan LPG, monitoring NPL di sektor tertentu saja, simulasi stress test secara continue, menjaga coverage-nya tetap tinggi dan fokus mencari dana murah atau CASA (current account saving account).
“Kalau lihat prediksi ini kita ada di kuadran dua, jadi risikonya masih tinggi dan potensi pertumbuhannya moderat. Dan seterusnya kita akan longgar kira-kira dengan kondisi yang membaik, risikonya menjadi rendah itu akan terjadi di kuartal ketiga dan keempat,” jelas Sunarso. (CR-13)
