Cek 6 Resep Bagi Perusahaan Asuransi di Tengah Tren Kenaikan Biaya Medis
JAKARTA, Investortrust.id - Biaya kesehatan atau biaya medis di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini akan berdampak bagi perusahaan asuransi yang menerbitkan produk asuransi kesehatan jangka panjang.
“Tentu ada dampaknya, ketika perusahaan asuransi tidak memiliki strategi bisnis untuk me-maintain, bahkan menurunkan claim ratio kesehatan yang dimiliki,” ujar pengamat asuransi Dedi Kristianto, kepada Investortrust.id belum lama ini.
Merujuk Survei Medical Trend Summary Mercer Marsh Benefits (MMB) bertema Health Trends 2023, medical trend rate atau atau biaya kesehatan di Indonesia terus naik. Pada tahun 2021 biaya kesehatan tercatat mengalami peningkatan 7,7%, kemudian pada 2022 yaitu 12,3% dan diproyeksikan meningkat hingga 13,6% di 2023. Prediksi ini juga lebih tinggi ketimbang biaya kesehatan di Asia yang secara rata-rata meningkat 11,5%.
Baca Juga
Dibayangi Inflasi Medis, Bisnis Asuransi Kesehatan Diprediksi Tetap Cerah
Menurut Dedi, ada enam langkah strategis yang dapat dilakukan oleh perusahaan asuransi dalam menghadapi tren kenaikan biaya medis, Pertama, melakukan repricing atas produk-produk kesehatan yang memiliki claim ratio tinggi, termasuk di dalamnya penyesuaian fitur dari produknya.
“Kemudian, melakukan control dan monitoring atas claim ratio morbidity secara ketat untuk melakukan mitigasi atas abusing claim yang mungkin terjadi,” lanjutnya.
Ketiga, jika perusahaan asuransi menggunakan pihak ketiga untuk melakukan penjaminan atau third party administrator (TPA), maka perusahaan penjaminan tersebut wajib memiliki clinic pathway yang jelas dan case management yang dilakukan secara ketat untuk kontrol biaya rumah sakit (RS).
Baca Juga
Di samping itu, perusahaan asuransi juga perlu bernegosiasi dengan pihak RS agar mendapatkan harga khusus bagi para nasabah perusahaan asuransi yang bersangkutan.
Perusahaan asuransi juga dirasa perlu memikirkan untuk menelurkan produk-produk asuransi kesehatan baru yang telah disesuaikan mulai dari penyesuaian harga dan fitur, dengan kondisi inflasi medis yang tengah terjadi. Last but not least, perusahaan asuransi juga harus memikirkan wellness program bagi nasabahnya.
Dengan menerapkan beberapa hal tersebut, Dedi yakin, lonjakan klaim tidak akan terjadi di tengah biaya kesehatan yang terus meningkat. “Saya meyakini (klaim kesehatan) tidak (naik) sepanjang perusahaan asuransi menjalankan enam hal yang saya sebutkan di atas,” pungkasnya. (CR-13)

