Wahai Gen Z dan Milenial! Jadilah Investor, Bukan Trader
JAKARTA, investortrust.id – Generasi Z dan milenial yang baru berinvestasi di saham jangan coba-coba menjadi trader alias investor yang bertransaksi secara harian, menit per menit, dengan tujuan spekulasi. Mereka harus menjadi investor atau berinvestasi dalam jangka panjang.
“Tekankan jadi investor, bukan jadi trader. Kalau jadi investor, niatnya betul-betul berinvestasi, bukan untuk spekulasi,” ujar Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Horas VM Tarihoran dalam diskusi Investortrust Goes to Campus di Universitas Tarumanagara, Jakarta, Kamis (19/10/2023).
Baca Juga
Ngeri...! Gen Z dan Milenial Bergelimang Utang Pinjol Rp 27 Triliun
Menurut Horas, dengan memosisikan diri sebagai investor, gen Z dan milenial yang berinvestasi di saham akan memiliki pola pikir (mindset) sebagai investor, bukan sebagai spekulan. Dengan begitu, mereka akan dituntut memahami secara cermat perihal risiko yang melekat pada setiap produk investasi.
Horas Tarihoran menegaskan, investasi di pasar modal tidak sesulit yang dibayangkan. Para gen Z dan milenial hanya perlu memahami risiko dan mendalami karakter dan fundamental setiap produk investasi yang menjadi targetnya.
Selain itu, kata Horas, investasi di pasar modal, khususnya saham, sekarang tidak mahal. Masyarakat bahkan sudah bisa berinvestasi di saham atau reksa dana hanya dengan modal Rp 50 ribu. “Semudah dan semurah itu,” tandas dia.
Baca Juga
Investor Gen Z dan Milienial Dominan di Pasar Saham, Potensi Tumbuhnya Menakjubkan
Horas mengakui, saat ini masih banyak masyarakat, termasuk gen Z dan milenial, yang terjerumus ke dalam investasi bodong atau penipuan berkedok investasi. Itu terjadi akibat kurangnya literasi keuangan dan investasi. “Karena itu, investasi perlu diajarkan kepada generasi muda, termasuk di kampus-kampus,” tutur dia.
OJK, menurut Horas, akan terus memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat agar literasi keuangan meningkat. Berdasarkan hasil survei nasional OJK tahun lalu,indeks literasi dan inklusi keuangan masing-masing mencapai 49,68% dan 85,10%.
“Kami bersama stakeholders yang lain, terutama para pelaku industri jasa keuangan, kampus, dan media massa, akan terus berupaya meningkatkan literasi karena literasi keuangan adalah salah satu cara kita meningkatan kesejahteraan dan mengentaskan kemiskinan,” tegas dia.(CR-2/CR-3)

