AUM Reksa Dana Sulit Bertumbuh, Infovesta Bilang Ini
JAKARTA, investortrust.id - Sejak diterbitkannya Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No 5/SEOJK.05/2022 tentang Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (SEOJK PAYDI) atau dikenal dengan istilah unit link, produk reksa dana mengalami penurunan investor. Dana kelolaan reksa dana juga cenderung turun.
Head of Capital Market Research PT Infovesta Utama (Infovesta) Wawan Hendrayana mengatakan, OJK perlu memberikan insentif kepada industri pengelola reksa dana. Insentif ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan reksa dana dan menembus target mencapai Rp 1.000 triliun.
"Sebetulnya, dulu, industri reksa dana memiliki insentif. Ketika mereka invest ke dalam obligasi, pajaknya bisa 0%, artinya dibanding saya pegang sendiri lebih menarik dipegang ke bentuk reksa dana. Itu (pajaknya) gradual naik menjadi 5% lalu 10%. Kalau memang OJK ingin menembus Rp 1.000 triliun, harus berikan insentif kepada industri reksa dana. Pajaknya jangan 10% tapi turun dulu ke 5%, supaya memacu orang-orang lebih tertarik berinvestasi lewat reksa dana," ujar Wawan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema "Tantangan Industri & Strategi Mencapai Target AUM Rp 1.000 triliun," pada Jumat 8 Maret 2024, di Kantor Investortrust di The Convergence Indonesia, Jakarta Selatan, Jumat (08/03/2024).
"Sebetulnya, dulu, industri reksa dana memiliki insentif. Ketika mereka invest ke dalam obligasi, pajaknya bisa 0%, artinya dibanding saya pegang sendiri lebih menarik dipegang ke bentuk reksa dana. Itu (pajaknya) gradual naik menjadi 5% lalu 10%. Kalau memang OJK ingin menembus Rp 1.000 triliun, harus berikan insentif kepada industri reksa dana. Pajaknya jangan 10% tapi turun dulu ke 5%, supaya memacu orang-orang lebih tertarik berinvestasi lewat reksa dana," ujar Wawan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema "Tantangan Industri & Strategi Mencapai Target AUM Rp 1.000 triliun," pada Jumat 8 Maret 2024, di Kantor Investortrust di The Convergence Indonesia, Jakarta Selatan, Jumat (08/03/2024).
Baca Juga
Dear Investor, Mau Tahu Berapa Pajak Return Saham, Obligasi, dan Reksa Dana?
Dia menyampaikan, dana kelolaan reksa dana cenderung turun sejak SEOJK Nomor 5/2022 tentang PAYDI keluar. Di sisi lain, produk investasi reksa dana akan menarik di mata investor, bila kinerjanya bagus.
"Jadi, yang menarik investor untuk investasi ke reksa dana adalah kinerjanya. Itulah mengapa terlihat yang berbasis obligasi, reksa dana pendapatan tetap lalu juga proteksi, meningkat. Ini karena memang mereka yang memberikan kontribusi secara konsisten terhadap kinerja," ungkap Wawan.
Baca Juga
Ingin Menghindari Beban Pajak dalam Investasi Saham? Simak Tips Berikut Ini
Para narasumber berfoto bersama sesaat sebelum FGD bertema "Berpacu Menuju AUM Rp 1.000 Triliun" dimulai di di kantor redaksi Investortrust, The Convergence Indonesia, Jakarta, Jumat (08/03/2024). Dari kiri ke kanan: Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, Direktur Utama PT Trimegah Asset Management (Trimegah AM) Antony Dirga, moderator dan CEO Investortrust Indonesia Sejahtera, Primus Dorimulu, Presiden Direktur Principal Asset Management Naresh Krishnan dan Head of Capital Market Research Infovesta, Wawan Hendrayana. Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.

