Bank-Bank KBMI 1 Kesulitan Terapkan Digital Banking
JAKARTA - investortrust.id - Executive Director Intellectual Business Community, Bayu Perwira Hie mengatakan, ada sejumlah hambatan bagi bank-bank di kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) I atau yang memiliki modal inti kurang dari Rp 6 triliun dalam menerapkan digitalisasi. Salah satunya akibat kurangnya fokus investasi di sektor teknologi informasi (TI).
Sebab, menurut Bayu, ada hal sulit bagi bank konvensional yang akan beralih ke digital banking. Bank-ban kelompok tersebut masih harus memikirkan biaya untuk sejumlah resources, seperti biaya di sumber daya manusia (SDM) dan juga biaya tanggungan untuk kantor cabang.
“Jadi kita lihat di sini adalah masa-masa yang sulit bagi konvensional yang beralih ke digital banking karena satu sisi mereka masih menanggung biaya kantor cabang, masih menanggung biaya human resources, di sisi lain mereka harus berinvestasi baru untuk teknologi digital banking,” ujarnya, dalam Focus Group Discussion (FGD) Digital Banking Awards (DBA), bertema ‘Business Resilient Against Cyber Attack’ yang diadakan Investortrust.id, di The Convergence, Jakarta, Senin, (27/11/2023).
Seperti diketahui, KBMI I merupakan kelompok bank dengan modal inti paling rendah. Bayu mengatakan, dengan masih kecilnya size bank di kelompok ini, tentunya sangat berat dibebani dengan dua hal tersebut. Yang pada akhirnya akan membuat investasi di sektor IT dikesampingkan.
“Apalagi bank-bank KBMI I yang kapasitasnya relatively masih kecil dibebani dengan dua overhead yang masih berjalan ini, mereka seringkali berinvestasi kalau ada ruang setelah bayar pegawai dan sebagainya. Sehingga investasi di IT-nya terbatas, dan kebanyakan akhirnya memakai vendor,” jelasnya. (CR-13)

