Kabar BTN Syariah Gabung Bank Muamalat, Begini Dampaknya bagi Industri
JAKARTA, investortrust.id – Kabar bergabungnya BTN Syariah dengan PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) kembali ramai dibahas publik. Rencana penggambungan tersebut disambung positif sejumlah kalangan, karena dinilai akan berkontribusi positif terhadap penguatan industri perbankan syariah di Indonesia.
Opsi bergabungnya BTN Syariah dengan Bank Muamalat awalnya digulirkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir saat pelaksanaan Musyawarah Nasional VI, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Tahun 2023 di Jakarta pada 1 Oktober 2023.
Saat itu, Erick mengungkapkan, sejumlah opsi terbuka bagi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) untuk merealisasikan pemisahan atau spin off Unit Usaha Syariah-nya (BTN Syariah). Salah satunya adalah BTN Syariah akan bergabung dengan Bank Muamalat.
Baca Juga
OJK Ajak Masyarakat Hijrah ke Ekonomi Syariah, Ini Alasannya…
"Kami masih mempelajari apakah BTN Syariah akan menjadi bagian BSI atau mungkin bergabung dengan bank syariah lainnya, seperti bank Muamalat atau dibesarkan sendiri dengan investasi lainnya. Itu konteks terbuka bagi saya," terang Erick Thohir.
Penggabungan BTN Syariah dan Bank Muamalat juga sejalan dengan Wakil Presiden RI KH Maruf Amin untuk menyelamatkan Bank Muamalat. Erick menilai penguatan ekosistem ekonomi syariah tidak cukup hanya dengan penguatan BSI. "Saya melalui MES mendorong bersama BPKH, (Menteri Agama) Gus Yaqut, untuk menyelamatkan Muamalat. Bank itu akan ditransformasi untuk menciptakan keseimbangan ekonomi, jangan BSI sendiri," jelas Erick.
Wacana penggabungan BTN Syariah dengan Bank Muamalat direspon positif berbagai pihak. Terbaru Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menilai, Indonesia setidaknya membutuhkan dua bank syariah besar untuk menciptakan persaingan yang sehat dalam industri tersebut.
Baca Juga
Ada Stimulus Bebas PPN, BBTN Pasang Target Kredit Tumbuh Dua Digit
“Sekarang tidak sehat [karena] dalam satu pasar syariah sekarang ada satu bank besar dan yang lain kecil-kecil. Itu tak sehat. Perlu ada persaingan sehat dan bantu persaingan bank syariah dengan [bank] konvensional di playing field yang sama,” jelas Dian di Jakarta, Selasa (14/11).
Saat ini, terang dia, memang ada instrumen pemaksaan berupa Undang-Undang yang dapat mempercepat proses merger atau konsolidasi sektor perbankan syariah. Namun, menurut Dian, OJK tetap akan memberikan ruang bagi bank untuk saling melakukan pendekatan dengan bank lain untuk konsolidasi.
Positif bagi Industri
“Jika rumors itu (akuisisi muamalat oleh BTN) benar, akan sangat baik dampaknya. Bukan hanya bagi kedua bank tersebut, juga untuk industri perbankan syariah. Bagaimanapun, konsolidasi dapat meningkatkan daya saing bank sehingga menjadi lebih kompetitif,” kata Piter Abdullah Redjalam, Direktur Eksekutif Segara Research Institut.
Dia mengatakan, BTN juga melakukan langkah cerdik dan strategis jika berhasil mengakuisisi Bank Muamalat dan kemudian menggabungkannya dengan UUS sebagai bagian dari agenda spin off. Salah satu alasannya, kedua bank ini memiliki bisnis model yang berbeda sehingga akan saling melengkapi.
Baca Juga
UUS BTN tercatat sebagai pemain penting di bisnis pembiayaan rumah syariah. Total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp33,90 triliun per akhir Juni 2023, tumbuh 16%. Sementara Bank Muamalat memiliki produk yang jauh lebih beragam dan menyasar semua segmen. Total pembiayaannya mencapai Rp21,7 triliun per akhir September 2023, tumbuh 22,4%.
“Setelah melalui masa masa sulit, Bank Muamalat kini sudah mulai bangkit dan membalikkan kinerja. Nah, untuk melanjutkan ekspansi dan menggenjot pertumbuhan, Bank Muamalat tentu membutuhkan suntikan modal. Dengan konteks seperti ini, kehadiran investor baru menjadi sangat penting,” terang Piter.

