BI: Tak Perlu Khawatirkan DPK yang Melambat
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung meminta masyarakat untuk tak mengkhawatirkan lemahnya pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Dia mengatakan pelemahan pertumbuhan DPK tidak berarti menunjukkan likuiditas yang ketat.
“Kalau kita lihat Alat Likuiditas over DPK (AL/DPK) itu masih 26%. Secara rata-rata historis itu 20%. Ini menurut kami masih memadai,” kata Juda, saat diskusi Seminar Nasional Outlook Perekonomian Indonesia 2024, di St Regis, Jakarta, Jumat (22/12/2023).
Juda menyebut dengan kondisi tersebut, lending capacity perbankan dalam memberikan kredit masih dalam kondisi yang cukup kuat. Dia pun mengakui pertumbuhan DPK agak lambat 3% karena adanya excess saving 2020-2022 yang meningkat tajam karena orang tidak banyak mengeluarkan konsumsi.
Baca Juga
Bank Mandiri (BMRI) Catat Pertumbuhan Kredit 8,99%, DPK Melambat per Oktober
“Ketika (pandemi) Covid-19 orang kan saving, karena nggak konsumsi. Sekarang begitu konsumsi, tabungannya dipakai. Jadi saya rasa DPK 3% di tahun ini tidak perlu dikhawatirkan,” ujar dia.
Juda mengatakan pertumbuhan DPK selama empat tahun terakhir memang mencapai angka rerata yang tidak jauh dari kondisi DPK saat ini. Angka rata-rata tersebut, kata dia, normal berada di 8%.
“Tahun depan DPK terus tumbuh dan pertumbuhan kredit, perkirakan bahkan lebih tinggi dari tahun ini 10-12%” ucap dia.
Melihat proyeksi tersebut, BI memperkirakan PDB 2024 masih bisa tumbuh di atas 5%, pada kisaran 4,7-5,5%.
Baca Juga
BTN Pacu Transaksi Mobile Banking, Rilis Fitur Baru Jelang Nataru
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Desember 2023,bank sentral mengungkap pertumbuhan DPK tercatat sebesar 3,04% pada November 2023. Angka ini mengalami penurunan, karena pada Oktober 2023tercatat 3,43 (yoy).
Sementara itu, kredit perbankan tumbuh 9,74% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 8,99% (yoy). Peningkatan kredit/pembiayaan didorong oleh tumbuhnya permintaan kredit yang sejalan dengan tetap terjaganya kinerja korporasi dan rumah tangga. Secara sektoral, pertumbuhan kredit ditopang sektor perdagangan, industri, dan jasa dunia usaha.

