Rupiah Tertekan dalam Beberapa Hari Terakhir, Ternyata Gara-gara Ini
JAKARTA, Investortrust.id – Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir disinyalir akibat kenaikan harga minyak dunia bersamaan dengan penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap mata uang global.
Pagi ini Jumat (29/9/2023), rupiah mulai rebound terhadap dolar Amerika Serikas (AS) setelah turun dalam beberapa hari terakhir. Rupiah ditransaksikan level Rp 15.514 per dolar AS.
Baca Juga
Gagal Capai Level US 100 per Barel, Harga Minyak Melorot Akibat Aksi Ambil Untung
Mandiri Sekuritas dalam risetnya yang diterbitkan hari ini menyebutkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah ke level terendah baru Rp 15.500 sejak Maret 2023 dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia yang bisa menekan cadangan dolar Indonesia. Bahkan kondisi ini bisa membuat neraca perdagangan Indonesia bis defisit ke depan.
Pelemahan mata uang rupiah, terang dia, juga dipicu penguatan mata uang dollar terhadap mata uang global, seiring kebijakan hawkish The Fed. Apalagi yield surat utang AS tenor 10 tahun telah naik ke 4,5%. Hal ini membuat pemodal asing mulai ke luar dari pasar obligasi dalam negeri.
Baca Juga
Turun Lagi, Harga Emas Batangan Antam Rp 1,053 Juta per Gram
Mandiri Sekuritas melanjutkan faktor eksternal menjadi pemicu utama pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini diprediksi berlanjut hingga rapat penentuan suku bunga The Fed pada 2 Novmber 2023. Meski demikian, kondisi bisa berbeda, apabila data ekonomi AS menunjukkan perbaikan.
Meski tekanan rupiah masih besar, Mandiri Sekuritas menyebutkan, Bank Indonesia (BI) diprediksi tetap mempertahankan tingkat suku bunga sebesar 5,75% pada rapat bulan depan. Apalagi cadangan nilai tukar masih besar mencapai US$ 137,1 miliar pada Agustus 2023.

