Investasi Dana Pensiun Pasca Kemelut SVB
Dunia keuangan global dikejutkan oleh kandasnya bisnis tiga bank besar milik Negeri Paman Sam: Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank. Pada momen yang sama, raksasa Credit Suisse ikut terbelit persoalan likuiditas. Harga ekuitas di pasar modal global maupun Indonesia sempat rontok berjamaah. Namun respons cepat Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) dan otoritas terkait lainnya berhasil mempertebal kepercayaan pasar bahwa kemelut ini tidak berdampak serius pada industri keuangan global.
Tiga bank beken Amerika Serikat, Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank mendadak bikin panik pasar keuangan dunia. Kepanikan timbul setelah tiga nama itu secara bergiliran dinyatakan kolaps dengan alasan masing-masing. Bisnis SVB dinyatakan kandas pada Jumat (10/3/2023) karena gagal mendapatkan suntikan modal setelah tak kuasa mencegak rush (penarikan dana secara masif) oleh para nasabah maupun para investornya.
Kondisi kekeringan likuiditas pun tak bisa terhindarkan. SVB pun dinyatakan “henti jantung” 48 jam setelah rencana menggalang dana senilai US$ 2,25 miliar atau setara Rp 34,75 triliun untuk menambah modal tak tercapai. Usai dinyatakan berhenti beroperasi, SVB diambil alih oleh Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) atau Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) Amerika Serikat.
Dua hari sebelum SVB kolaps, Silvergate Bank menyatakan bakal menghentikan operasi dan melikuidasi usahanya. Tak hanya itu, pada Minggu (12/3/2023) regulator perbankan AS mdengumumkan mengambil alih bisnis Signature Bank. Dua nama ini, Signature dan Silvergate selaman ini dikenal sebagai bank yang aktif mengucurkan pinjaman bagi kalangan perusahaan yang bergelut di bidang investasi kripto.
Nama SVB dikenal punya reputasi bonafit sekaligus berada di belakang moncernya bisnis perusahaan-perusahaan rintisan yang kini telah mendunia. SVB bahkan pernah dinobatkan Forbes pada jajaran bank terbaik Amerika Serikat pada peringkat ke-20. Sampai dengan akhir 2022, total aset SVB tercatat US$ 213 miliar. Sedangkan nilai deposito milik nasabah yang dibenamkan di bank ini mencapai US$ 175,4 miliar. Kabarnya, nayris separuh industri rintisan atau startup mempercayakan dananya pada dananya di SVB.
Kejatuhan tiga bank sebagai penopang dua industri yang tengah menjadi perhatian dunia tak pelak menimbulkan kepanikan di pasar ekuitas dunia. Harga saham di bursa-bursa dunia, terutama saham bank-bank papan atas. Bahkan, akibat kejatuhan harga saham itu pula, bank papan atas dunia yang berbasisi di Swiss, Credit Suisse Group AG, dikabarkan ikut limbung.
Saham Credit Suisse ambruk ke ke level terendah, setelah Saudi National Bank selaku pemegang saham terbesarmenyatakan enggan menyuntikkan modal tambahan.“Jawabannya sama sekali tidak, karena berbagai alasan. Kami sekarang memiliki 9,8% saham Credit Suisse, jika kami melampaui 10% semua jenis aturan baru akan diberlakukan, baik itu oleh regulator kami atau regulator Eropa atau regulator Swiss,” kata Chairman Saudi National Bank, Ammar Al Khudairy, Rabu (15/3/2023).
Pernyataan ini memicu gelombang penjualan saham Credit Suisse hingga sempat anjlok 20% hanya dalam satu hari. Kejadian ini merontokkan saham-saham perbankan Eropa lainnyaBNP Paribas, Societe Generale, Commerzbank, dan Deutsche Bank. Guncangan bisnis perbankan papan atas dan crash saham Credit Suisse menyulut kekhawatiran pelaku pasar dunia.
Kepanikan yang sama ikut mempengaruhi pasar modal Indonesia, baik pasar saham maupun pasar obligasi. Satu hari sebelum SVB dinyatakan bangkrut pada 10 Maret, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berada pada kisaran 6.799,79 mulai tergerus hingga posisi terendah 6.565,73 pada 16 Maret 2023. Posisi IHSG ini merupakan level terendah tahun ini, bahkan lebih rendah dari posisi terendah tahun 2022 yakni 6.597,99 yang dibukukan pada 13 Maret 2022.
Kabar olengnya bank-bank papan atas juga sempat menekan harga surat utang negara (SUN). Padahal, sebelumnya pasar surat utang sudah tertekan oleh pilihan hawkish dari The Federal Reserve (The Fed). Harga SUN cenderung ertekan karena masih tingginya aktivitas spekulatif yang membut yield SUN 10 tahun sempt bergerak pada kisaran 6,73-7,31%.
Namun, berbagai upaya cepat otoritas keuangan, terutama Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC), mampu menenangkan pasar keuangan dunia. Pelaku pasar Kembali memburu saham yang undervalued dan IHSG di Bursa Efek Indonesia Kembali rebound. Sampai dengan perdagangan BEI tanggal 30 Maret 2023, IHSG sempat menembus level 3.854. Di pasar SUN, pelaku pasar pun melihat momentum kebangkitan, dan Kembali yakin, tahun ini akan menjadi momen yang menjanjikan untuk pasar surat utang, terutama instrument Surat Berharga Negara (SBN).
Stabil & Terkendali
Langkah cepat otoritas terkait menyelesaikan kasus bank-bank besar cukup efektif menenangkan pasar modal global. Credit Suisse misalnya diputuskan diambilalih UBS Group AG. Kesepakatan bisnis signifikan itu direspons positif Menteri Keuangan (Menkeu) AS Janet Yellen dan Gubernur Federal Reserve (Fed) Jerome Powell.
Keduanya tak lupa menjamin bahwa kondisi keuangan Amerika tetap terkendali di tengah mencuatnya berbagai peroslan perbankan yang timbul. “Posisi modal dan likuiditas sistem perbankan AS kuat dan sistem keuangan AS tangguh. Kami telah berhubungan dekat dengan mitra internasional kami untuk mendukung implementasinya,” demikian pernyataan resmi kedua pejabat penting itu.
Sesuai kesepakatan strategis itu, UBS Group disebut menggelontorkan dana 3 miliar franc Swiss atau setara US$ 3,2 miliar. Otoritas keuangan Swiss berada di balik keputusan besar tersebut. “Dengan pengambilalihan Credit Suisse oleh UBS, sebuah solusi telah ditemukan untuk mengamankan stabilitas keuangan dan melindungi ekonomi Swiss dalam situasi luar biasa ini,” demikian pernyataan bank sebtral Swiss yakni Swiss National Bank (SNB), Senin (20/3).
Berabagai upaya mencegah efek bola salju akibat olengnya bank-bank besar, baik oleh Otoritas Keuangan AS maupun Otoritas Jasa Keuangan direspons positif pasar. Setelah sempat mengalami fluktuasi tajam di tengah ketidakpastian, pada 24 Maret pasar saham kembali mempelihatkan tren rebound. Sejumlah langkah cepat yang diambil otoritas, baik di AS maupun Indonesia, berhasil meredam kepanikan di pasar saham.
OJK secara tegas menyatakan limbungnya bisnis Silicon Valley Bank tidak punya dampak langsung pada perbankan Indonesia maupun perekonomian Indonesia.Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menegaskan, perbankan Indonesia tidak memiliki hubungan bisnis, facility line, maupun investasi pada produk sekuritisasi SVB.
Perbankan Indonesia pun tidak secara khusus mendanai start-up maupun yang bergerak di industri kripto.“Oleh karena itu, OJK mengharapkan agar masyarakat dan Industri tidak terpengaruh terhadap berbagai spekulasi yang berkembang di kalangan masyarakat,” ujar Dian Ediana Rae, Selasa (14/3/2023).
Ia menambahkan, setelah krisis ekonomi 1998, Indonesia telah telah membangun system keuangan yang solid, dengan konsolidasi yang sangat baik antara pihak terkait. Lebih lanjut dikatakan, kondisi likuiditas perbankan Indonesia saat ini sangat baik. Antara lain rasio alat likuid terhadap non core deposit (AL/NCD) dan alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) di atas threshold yakni sebesar 129,64% dan 29,13%.Jauh di atas ambang batas ketentuan masing-masing sebesar 50% dan 10%,” tegasnya.
Dian juga memastikan, OJK akan mengutamakan kebijakan kolaboratif serta sinergi yang kuat dengan Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan. Kolaborasi ini di bawah koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan target mengantisipasi dampak dan tekanan global yang berpeluang terjadi.
Kondisi ini jelas berbeda dengan Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, maupun Signature Bank. Pada sisi lain, pendekatan suku bunga yang tidak agresif maupun koordinasi kebijakan yang era tantara otoritas fiscal, otoritas moneter, OJK maupun LPS membuat perbank Indonesia tidak mengalami peningkatan beban akibat kenaikan suku bunga.
“Kondisi Indonesia berbeda, karena koordinasi kita sangat baik sehingga kebijakan yang diambil sangat memperhitungkan berbagai aspek. Termasuk beban bunga bagi korporasi yang menerbitkan obligasi. Justru Amerika harus belajar dari kita,” ujar Kepala LPS, Purbaya Yudhi Sadewa dalam satu kesempatan dialog dengan salah satu radio Ibukota.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ogi Prastomiyono menegaskan, tidak ada lembaga keuangan di Indonesia yang punya kaitan langsung dengan SVB maupun bank-bank lain yang tengah limbung saat ini. Dengan demikian, dampak penutupan SVB maupun bank-bank lain hanya sebatas dampak psikologis pasar yang lazimnya hanya bersifat temporer.
Peluang Dana Pensiun
Meski dalam jangka pendek dampak guncangan industri keuangan global dan peningkatan suhu geopolitik sangat dirasakan di pasar obligasi, para fund manager secara umum optimistis bahwa sampai akhir tahun 2023 pasar obligasi tetap menarik. Hal ini akan ditopang oleh minat besar investor yang menempatkan dana pada produk reksa dana berbasis obligasi atau reksa dana pendapatan tetap.
Sejauh ini, minat investor pada reksa dana dengan basis SUN relatif tinggi dan cukup banyak mendapat rekomendasi fund manager. Dengan demikian kalangan MI akan menjadi faktor penggerak pasar obligasi selama Tahun Kelinci.
Optmisme MI ini mengacu pada kondisi ekonomi Indonesia yang relative solid di tengah kondisi ekonomi dunia yang penuh tekanan. Potensi ini menjadi factor penting mengapa posisi kepemilikan asing di pasar obligasi maupun pasar saham masih relative tinggi meski sempat mengalami sedikit penurunan awal Februari 2023.
Pada sisi lain, tren positif pengendalian inflasi akan berdampak pada penurunan suku bunga. Saat suku bunga menurun, yield obligasi bakal menarik. Pada saat itu, aksi fund amanager mendorong penjualan reksa dana pendapatan tetap akan mendorong akan membuat pasar obligasi menjadi lebih menarik.
Keyakinan ini didasari pertimbangan bahwa kenaikan suku bunga diprediksi akan berhenti pada semester II 2023 seiring laju inflasi turun. Pada kondisi demikian yield SBN diprediksi akan naik.
Sementara itu PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengklaim telah mendapat mandat pemeringkatan untuk surat utang dan belum listing sampai dengan 31 Januari 2023 sebesar Rp 43,5 triliun. Surat utang tersebut berasal dari 37 perusahaan. Rinciannya 21 perusahaan non BUMN dan 16 lain berstatus BUMN dan anak perusahaan.
Ekonom Pefindo Suhindarto memperkirakan penerbitan surat utang korporasi pada 2023 tidak akan setinggi tahun 2022. Faktor suku bunga tinggi ddinilai menjadi penyebab, karena kenaikan suku bunga akan mencerminkan tingginya cost of fund.
Sedangkan pasar saham diprediksi akan lebih likuid pada paruh kedua tahun 2023 ini. Hal ini bisa jadi kabar baik buat investor institusi seperti Dana Pensiun.
Tren positif pasar saham 2023 itu pula yang dibidik kalangan emiten. Bahkan jumlah emiten baru tahun ini diprediksi akan di atas target Bursa Efek Indonesia. Sampai dengan 17 Februari 2023, ada 18 emiten baru yang sudah listing di BEI.
Direktur BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, pada tahun politik ini, pihaknya mendorong suasana optimistis dengan menetapkaan target emisi baru yang lebih besar dibanding tahun 2022. Target 67 emiten baru yang pernah ditetapkan sebelumnya, belakangan direvisi BEI menjadi 70 emiten.
Semakin banyak emiten baru masuk pasar saham, semakin besar pula skala ekonomi dari pasar saham Indonesia. Dengan demikian, peluang kenaikan harga saham-saham makin terbuka. Sejumlah sector yang difavoritkan seperti perbankan, manufaktur, consumer goods, ritel, hingga pertambangan mineral.
Co-Founder Aplikasi Multiaset Pluang, Claudia Kolonas mengatakan, instrumen saham masih menjadi pilihan investasi sangat menarik untuk tahun 2023, terlepas dari volatilitas yang terjadi saat ini. “Di semesterII-2023, kampanye tahun politik menyambut Pemilu tahun 2024 bisa menjadi katalis dalam mendukung rally saham di sektor-sektor berkapitalisasi besar,” ujar Claudia.
Selain beberapa sector yang difavoritkan seperti perbankan, manufaktur, consumer goods, ritel, hingga pertambangan mineral, para analis juga mengimbau investor mencermati saham perusahaan teknologi maupun perbankan digital. Hal ini mengacu pada performa saham dua kelompok ini sejak awal 2023.
Analis saham Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan, pelaku pasar akan kembali melihat kinerja dan langkah perusahaan teknologi mencetak profit dengan ekosistem yang sudah dibangun selama ini. Kondisi ini sudah terjadi pada saham-saham teknologi global yang mendapat sentimen positif dari melambatnya kenaikan suku bunga.
Prediksi analis ini mengacu pada fakta bahwa tekanan terhadap saham-saham teknologi dan saham bank digital mulai mereda disbanding kondisi sebelumnya. Pada sisi lain, emiten teknologi didopang kekuatan pendanaan yang besar untuk menopang usaha. Bukan tidak mungkin kemampuan pendanaan akan digunakan untuk ekspansi, termasuk dengan akuisisi.
Para investor juga diimbau untuk tidak menutup mata terhadap kilau saham blue chips. Bahkan, kata para analis, saat pasar saham tengah berada dalam kondisi ketidakpastian, pilihan yang paling tepat adalah mengdalkan saham blue chips. Jika tak ada berita sangat serius yang menggerogoti kinerja emiten blue chips, koreksi saham dipastikan hanya sementara. Ketika katalis positif dating, saham blue chips akan mendahului untuk rebound.

