Studi Zurich Sebut Resilience Jadi Modal Baru Perusahaan Hadapi Tantangan Dunia Kerja
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketahanan tenaga kerja (workforce resilience) semakin menjadi faktor penting bagi perusahaan dalam menjaga produktivitas dan menghadapi tantangan dunia kerja.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, percepatan teknologi, serta meningkatnya risiko kesehatan, kemampuan karyawan beradaptasi dan menghadapi tekanan dinilai menjadi modal strategis bagi keberlanjutan bisnis.
Country Manager Zurich Indonesia dan Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk Edhi Tjahja Negara mengungkapkan, pembangunan ketahanan tenaga kerja kini menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Perusahaan, lanjut dia, tak hanya menghadapi risiko bisnis yang semakin kompleks, tapi juga dituntut menjaga kesehatan, keterlibatan, dan produktivitas karyawan.
“Karena itu, membangun workforce resilience bukan lagi sekadar inisiatif sumber daya manusia (SDM), melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” ujarnya, dalam Konferensi Pers 35 Tahun Zurich Indonesia, di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Studi global Zurich bertajuk The Resilient Workforce mengungkapkan, 88% pekerja dengan tingkat resilience tertinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik. Angka itu hampir dua kali lipat dibandingkan pekerja dengan tingkat resilience terendah yang mencapai 44%.
Riset tersebut juga menemukan bahwa hubungan antara resilience dan kinerja kerja lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan.
Temuan ini, lanjut Edhi, menjadi salah satu sorotan dalam perayaan 35 tahun kehadiran Zurich di Indonesia. Pada kesempatan yang sama, Zurich memperkenalkan Corporate Wellbeing Awards 2026 untuk mengapresiasi perusahaan yang menerapkan praktik kerja dengan memperhatikan kesehatan fisik, mental, sosial, dan finansial karyawan.
Baca Juga
Zurich Soroti Dampak Gangguan Kesehatan Mental Bisa Ancam Produktivitas dan Ketahanan Ekonomi
Studi Zurich bersama akademisi juga menunjukkan bahwa resilience dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial, keamanan finansial, hingga kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital.
Professor of Economics and Behavioural Science Saïd Business School University of Oxford Prof Jan-Emmanuel De Neve mentatakan, kesejahteraan karyawan berkaitan erat dengan produktivitas.
“Selama ini produktivitas dipandang sebagai hasil dari keterampilan, pengalaman, atau insentif. Namun, data kami menunjukkan bahwa pekerja yang lebih resilien cenderung memiliki kinerja yang lebih baik,” katanya.
Dari sisi kesehatan mental, CEO dan Co-Founder Halodoc Jonathan Sudharta menyatakan, konsultasi terkait gangguan kecemasan (anxiety) di Halodoc pada semester I 2026 meningkat 47,2% secara tahunan.
“Kepedulian terhadap kesehatan ini pun diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari mengenali kondisi diri hingga mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan,” ucapnya.
