Cegah Keputusan Investasi karena FOMO, Gen Z Perlu Pahami Risiko Kripto
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Minat generasi muda terhadap investasi aset kripto perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai perencanaan keuangan dan manajemen risiko. Pasalnya, aset kripto merupakan instrumen investasi berisiko tinggi sehingga tidak seharusnya menjadi pilihan sebelum investor memiliki fondasi keuangan yang memadai.
Founder Rencanaku.id sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Rahmat Aryo Baskoro mengatakan, investasi kripto bukan merupakan titik awal dalam menyusun rencana keuangan pribadi.
"Kripto bukan titik awal sebuah rencana keuangan, melainkan salah satu pilihan instrumen investasi. Urutannya harus tepat, yakni tetapkan tujuan keuangan, bangun fondasi dan literasi, baru kemudian memilih instrumen," ujar Rahmat dalam siaran pers, Senin (2/11/2026).
Menurut dia, setiap instrumen investasi memiliki risiko masing-masing. Namun, aset kripto termasuk dalam kategori berisiko tinggi sehingga calon investor perlu memahami karakteristik dan risikonya sebelum mengambil keputusan.
Dalam kegiatan bertajuk "Cara Gen-Z Tetap Bijak Finansial" tersebut, mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya membangun dana darurat, menentukan alokasi aset, serta membedakan informasi investasi yang kredibel di tengah maraknya konten media sosial.
Selain itu, peserta diperkenalkan dengan strategi manajemen risiko agar keputusan investasi tidak hanya didorong oleh tren maupun fenomena Fear of Missing Out (FOMO).
Baca Juga
Pengguna Saham dan ETF Tertokenisasi di PINTU Melonjak 68% pada Kuartal III 2026
Presiden Direktur PT Pintu Kemana Saja (PINTU) Andy Putra mengatakan, edukasi keuangan digital menjadi penting seiring meningkatnya minat generasi muda terhadap investasi aset kripto di Indonesia.
Dia menyebutkan, program Pintu Goes to Campus yang diselenggarakan PINTU bersama Management Student Society FEB UI pada 22 Oktober 2026 tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memperluas literasi keuangan digital di kalangan mahasiswa.
"Kami berharap generasi muda dapat memahami aset kripto secara lebih komprehensif, termasuk potensi dan risikonya, sehingga mampu mengambil keputusan investasi yang lebih bijak dan bertanggung jawab," kata Andy.
Baca Juga
PINTU Edukasi Pegawai Kopikina soal Aset Kripto dan Manajemen Risiko
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor aset kripto di Indonesia mencapai 22,93 juta per Juli 2026. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam pasar aset digital sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap edukasi investasi.
Sementara itu, CEO Management Student Society FEB UI Fariz Rahman Hakim menilai, kemudahan memperoleh informasi mengenai investasi melalui berbagai kanal belum tentu diikuti pemahaman yang memadai.
Menurut dia, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dalam memilah informasi dan mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan finansial.
