Rupiah Melemah, Imbas Inflasi AS yang Lebih Tinggi Dari Perkiraan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (15/10/2026). Rupiah melemah 0,28% menjadi Rp 17.954 per dolar AS.
Sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak beragam. Selain rupiah, pelemahan juga terpantau terjadi pada peso Filipina dan won Korea Selatan.
Selain tiga mata uang ini, nilai tukar mata uang di beberapa negara di kawasan justru menguat. Yen Jepang menguat 0,39%, rupee India menguat 0,13%, ringgit Malaysia menguat 0,01%, baht Tailan menguat 0,26%, dan dolar Singapura menguat 0,25%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa Inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan kembali memicu kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Ini memicu aksi jual tajam pada saham-saham teknologi yang sensitif terhadap suku bunga serta saham terkait kecerdasan buatan (AI). Nasdaq pun turun 1,88%.
Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,37% menjadi 102,55 dan telah menguat 4,30% year to date, didukung oleh inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan serta meningkatnya ekspektasi suku bunga dalam waktu dekat.
Inflasi konsumen (CPI) utama AS meningkat menjadi 0,6% secara bulanan dan 3,7% secara tahunan pada September 2026, dari sebelumnya masing-masing sebesar 0,4% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan. Sementara itu, inflasi inti naik 0,3% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan, lebih tinggi dari konsensus pasar.
Pasar akan mencermati data inflasi produsen (PPI) AS September yang dirilis malam ini untuk memperoleh indikasi lebih lanjut mengenai tekanan inflasi pada rantai produksi.
Baca Juga
Andry mengungkapkan bahwa persepsi atas enaikan suku bunga The Fed meningkat tajam setelah rilis data CPI, dengan pasar memperkirakan probabilitas sekitar 40% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 27–28 Oktober. Angka tersebut meningkat dari sekitar 20% sebelum data inflasi dirilis.
Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga tambahan hingga Desember telah melampaui 90%, memperkuat prospek suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama (higher for longer).
Saat ini, harga minyak mentah Brent naik 0,35% menjadi US$ 106,1 per barel , tetap berada pada level tinggi di tengah kembali meningkatnya risiko gangguan pasokan di Timur Tengah.
Serangan kelompok Houthi terhadap kantor pusat Saudi Aramco serta taktik baru Iran yang menargetkan pelayaran di sekitar Selat Hormuz terus menopang premi risiko geopolitik, meskipun ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk mulai pulih.
