Wall Street Ambruk Imbas Harga Minyak dan Kekhawatiran Inflasi, Indeks Nasdaq Anjlok Lebih dari 2%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) turun tajam pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (17/10/2026) WIB. Investor mengurangi eksposur terhadap saham teknologi dan perusahaan terkait artificial intelligence (AI). Kenaikan harga minyak serta kekhawatiran mengenai inflasi turut menekan sentimen pasar.
Indeks Nasdaq Composite merosot 2,14% dan ditutup pada 26.140,03. Indeks S&P 500 turun 1,09% menjadi 7.659,44. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 175,28 poin atau 0,34% ke posisi 52.002,41.
Baca Juga
S&P 500 dan Nasdaq mengakhiri perdagangan di bawah rata-rata pergerakan 50 hari, yang menjadi salah satu indikator teknikal untuk mengukur tren pasar.
Tekanan jual juga mendorong indeks volatilitas Cboe atau VIX, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street, menembus level 22 untuk pertama kalinya dalam empat bulan.
Sepanjang pekan ini, Nasdaq merosot lebih dari 4%, mencatatkan kinerja mingguan terburuk sejak Juni. S&P 500 kehilangan sekitar 2%, sedangkan Dow Jones justru masih membukukan kenaikan 0,7%.
Perbedaan kinerja tersebut mencerminkan tekanan yang lebih besar terhadap saham teknologi dan AI dibandingkan sejumlah sektor lain di pasar.
Saham Semikonduktor Tertekan
Saham produsen chip kembali menjadi salah satu sumber pelemahan pasar. VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun 3% pada Jumat, dipimpin penurunan saham Micron Technology, Advanced Micro Devices (AMD), dan Sandisk.
Sepanjang pekan, SMH merosot 10%, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak April 2025.
Saham semikonduktor tertekan oleh kekhawatiran mengenai meningkatnya persaingan dari China. Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian terhadap prospek perusahaan chip, khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan komputasi AI dan pasar memori.
Pelemahan saham semikonduktor, ditambah penurunan saham lain yang terkait dengan AI, menjadi faktor utama yang menyeret Nasdaq dan S&P 500 ke zona negatif selama sepekan.
Investor juga semakin mencermati besarnya kebutuhan pembiayaan perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI. Kekhawatiran muncul bahwa sebagian perusahaan mengambil utang terlalu besar untuk mendukung ekspansi tersebut.
Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan adalah CoreWeave, penyedia infrastruktur komputasi awan yang berfokus pada AI. Total utangnya telah meningkat menjadi lebih dari US$51 miliar.
Saham CoreWeave anjlok hampir 12% pada Jumat, sehingga kerugiannya sepanjang pekan mencapai 25%.
“Investor perlu terus mengawasi peningkatan penerbitan utang oleh perusahaan teknologi, terutama jika nilainya semakin berlebihan,” Michael Rosen, kepala investasi Angeles, dikutip CNBC. Namun, ia menilai kondisi saat ini belum menunjukkan bahwa pasar telah mendekati persoalan sistemik.
Kekhawatiran investor terhadap utang AI semakin besar, meskipun belum tentu menandakan krisis keuangan yang lebih luas.
Lonjakan Harga Minyak
Di luar sektor teknologi, kenaikan harga minyak menjadi faktor lain yang menekan pasar saham. Minyak mentah WTI naik 3,51% menjadi US$101,41 per barel, sedangkan Brent menguat 3,72% menjadi US$109,86 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran serta berlanjutnya konflik Rusia-Ukraina.
Baca Juga
Iran Tingkatkan Serangan di Selat Hormuz, Minyak Brent Sentuh US$110 per Barel
Bagi investor saham, minyak yang semakin mahal berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar, transportasi, dan produksi perusahaan. Jika kenaikan tersebut berlangsung lama, tekanan terhadap margin keuntungan dapat meluas ke berbagai sektor.
Harga energi juga menjadi perhatian karena data inflasi terbaru AS menunjukkan tekanan harga masih lebih tinggi daripada target The Fed sebesar 2%.
Inflasi harga grosir pada September mencatat kenaikan tahunan terbesar sejak 2022. Sementara itu, inflasi konsumen masih bertahan jauh di atas sasaran bank sentral.
Kondisi tersebut memperumit prospek kebijakan moneter. Jika kenaikan harga energi kembali memperkuat inflasi, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan suku bunga dapat semakin terbatas.
Ketidakpastian tersebut menjadi tantangan bagi saham teknologi yang valuasinya sangat sensitif terhadap perubahan biaya pinjaman dan ekspektasi keuntungan pada masa mendatang.
Investor Menanti Arah Kebijakan The Fed
Ketua The Fed Kevin Warsh berbicara dalam acara IMF di Bangkok pada Jumat. Ia tidak memberikan petunjuk apakah bank sentral akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Namun, pelaku pasar menafsirkan pernyataannya sebagai indikasi bahwa The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga pada rapat 27–28 Oktober.
Berdasarkan CME Group FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada rapat tersebut mencapai 82%, menurut data yang dikutip dalam laporan pasar saham.
Meski demikian, ketidakpastian mengenai inflasi dan perkembangan harga energi tetap membayangi pasar.
Pergerakan Wall Street pada Jumat memperlihatkan bahwa investor menghadapi tekanan dari beberapa arah sekaligus: penurunan saham teknologi, kekhawatiran mengenai pembiayaan investasi AI, kenaikan harga minyak, serta inflasi yang belum terkendali.
Bagi investor, perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan laba di tengah meningkatnya biaya, sekaligus pada seberapa jauh tekanan inflasi memengaruhi keputusan suku bunga The Fed.
