Asuransi Sinar Mas Ungkap Prospek Lini Bisnis Kesehatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Asuransi Sinar Mas optimistis prospek bisnis lini asuransi kesehatan masih cukup baik hingga akhir 2026. Meski begitu, masih ada sejumlah tantangan yang membayangi lini bisnis ini.
Direktur Asuransi Sinar Mas, Dumasi Marisinia M Samosir mengungkapkan, peluang bisnis asuransi kesehatan masih terbuka. Namun, penerapan ketentuan baru, salah satunya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 36 Tahun 2025 tentang Penguatan Ekosistem Asuransi Kesehatan.
“Prospek asuransi kesehatan tahun ini sebenarnya harusnya masih bagus. Cuman ini banyak persaingan juga,” ujarnya, menjawab pertanyaan Investortrust, seusai acara Customer Gathering bertema Health Insurance Overview: Regulation, Innovation & Collaboration,” di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Menurut Dumasi, dampak penerapan aturan baru terhadap industri asuransi kesehatan kemungkinan baru akan terlihat lebih jelas pada tahun depan. Hal in seiring dengan bertambahnya persyaratan yang harus dipenuhi perusahaan asuransi untuk menjalankan lini bisnis tersebut.
Salah satu ketentuan yang menjadi perhatian adalah kewajiban perusahaan asuransi memiliki tim utilization review (UR) sendiri yang masuk ke dalam salah satu syarat peran dewan penasihat medis atau medical advisory board (MAB).
Fungsi ini, lanjut Dumasi, berperan dalam meninjau pemanfaatan layanan kesehatan, termasuk memastikan kesesuaian pelayanan medis dengan kebutuhan dan ketentuan polis.
Ia menjelaskan, perusahaan asuransi tidak lagi dapat sepenuhnya mengandalkan pihak ketiga untuk menjalankan fungsi tersebut. Perusahaan perlu memiliki sumber daya internal, termasuk dokter, untuk mendukung pelaksanaan UR.
Dumasi menambahkan, perubahan ketentuan tersebut juga berdampak pada perusahaan pengelola administrasi pihak ketiga atau third party administrator (TPA). Pihak TPA juga harus menyesuaikan kegiatan operasionalnya dengan ketentuan yang berlaku.
Sebelumnya, perusahaan asuransi dapat mengandalkan TP untuk membantu menjalankan sejumlah fungsi dalam pengelolaan asuransi kesehatan. Tapi, dengan persyaratan yang semakin ketat, perusahaan perlu memastikan kesiapan organisasi, sumber daya manusia (SDM), dan proses bisnisnya.
Oleh karena itu, Dumasi memperkirakan tahun depan akan menjadi periode penting untuk melihat perusahaan mana saja yang mampu memenuhi persyaratan dan melanjutkan bisnis asuransi kesehatan.
“Dari aturan ini nanti kita mungkin akan melihat dampaknya di tahun depan, seberapa banyak perusahaan asuransi yang memang survive dan masih bisa lanjut berjualan (asuransi kesehatan) di tahun depan,” katanya.
Lini Asuransi Kesehatan Masih Penting
Di tengah tantangan tersebut, asuransi kesehatan tetap menjadi salah satu lini bisnis penting bagi Asuransi Sinar Mas. Meski kontribusinya masih relatif kecil ketimbang lini bisnis lain, asuransi kesehatan menempati posisi tiga besar berdasarkan berdasarkan kontribusi terhadap total premi perusahaan.
Dumasi menyebut, lini properti masih menjadi penyumbang premi terbesar Asuransi Sinar Mas, disusul asuransi kendaraan bermotor dan asuransi kesehatan.
“Kalau dari sisi porsi masih kecil tapi masih top three (dari total premi). Premi terbesar dari properti, kedua kendaraan bermotor, dan ketiga asuransi kesehatan dengan porsi sekitar 10%,” ucapnya.
Hingga 2025, Dumasi menyebut premi bruto atau gross written premium (GWP) dari lini asuransi kesehatan sebesar Rp 798 miliar.
Kesadaran Anak Muda Rendah
Terlepas dari itu, Dumasi mengungkapkan jika kesadaran anak muda terhadap pentingnya asuransi kesehatan masih relatif rendah.
Menurutnya, masyarakat umumnya baru mencari asuransi kesehatan setelah pensiun dan tidak lagi mendapatkan fasilitas kesehatan dari perusahaan.
“Umumnya justru malah yang sudah pensiun karena sudah tidak dicover lagi oleh perusahaannya, baru nyari,” ujar Dumasi.
Kondisi ini, kata dia, menjadi pekerjaan rumah bagi industri asuransi untuk meningkatkan literasi, khususnya kepada generasi muda.
Meski Asuransi Sinar Mas telah menyediakan aplikasi seluler untuk mempermudah akses layanan, tapi permintaan dari kelompok usia muda masih belum banyak.
