OJK Ungkap Peluang Investasi SBN Mulai Rp 10.000 Lewat Tokenisasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, tokenisasi surat berharga negara (SBN) dan sukuk berpotensi memungkinkan masyarakat untuk berinvestasi mulai dari Rp 10.000. Inovasi ini diharapkan dapat memperluas akses investasi, khususnya bagi generasi muda dan investor pemula yang memiliki modal terbatas.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK Adi Budiarso, perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi masyarakat untuk mengakses instrumen investasi dengan nominal yang lebih terjangkau.
Misalnya saja aset kripto yang bisa dibeli berbekal puluhan ribu rupiah. Ke depan, pendekatan serupa juga berpotensi diterapkan pada investasi SBN dan sukuk melalui mekanisme tokenisasi.
“Sebentar lagi kita akan ada yang namanya tokenisasi sukuk, tokenisasi SBN. Selama ini kita beli SBN dengan pecahan Rp 1 juta, nanti mahasiswa bisa beli dengan uang Rp 10.000 sudah bisa beli SBN,” ujar Adi, dalam Digital Financial Literacy 2026, Senin (12/10/2026).
Baca Juga
Pembiayaan APBN Tembus Rp 493,3 Triliun, Kemenkeu Siapkan 12 Lelang SBN
Melalui tokenisasi, kepemilikan atas instrumen keuangan dapat direpresentasikan dalam bentuk token digital. Mekanisme ini berpotensi membuat investasi lebih mudah diakses dengan nominal yang lebih kecil, sehingga masyarakat tak harus memiliki dana besar untuk mulai berinvestasi.
Di sisi bersamaan, Adi juga mendorong masyarakat untuk membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan keuangan jangka panjang. Salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan adalah surat berharga pemerintah.
Baca Juga
Suahasil: Yield US Treasury Melonjak Gegara Perang, Spread dengan SBN hanya Selisih 188 Bps
“Mulai dari 10% tadi tolong ditabung minimal di SBN, di tokenisasi surat berharga. Karena return-nya steady dan itu yang namanya membangun yang disebut risk free rate atau tingkat pendapatan yang tetap,” katanya.
Terlepas dari itu, data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat, investor generasi Z berkontribusi sebesar 4,5% terhadap penjualan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri ORI027 pada 2025. Sementara, generasi milenial menjadi kelompok dengan kontribusi terbesar, yaitu 45,9%.
